logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 29 Oktober 2003 Sala  
Line

Masjid Al Wustho Berumur Seratus Tahun

BANGUNAN khas bermahkota kubah dan dilengkapi menara yang menjulang itu tampak berdiri kukuh. Bangunan tersebut menghampar di antara luasnya halaman yang sudah ditutup paving serta bangunan-bangunan kecil yang berada di beberapa sudut halaman.

Sebentuk relief kaligrafi melengkung ke atas menghiasi gapura yang menjadi pintu gerbang utama menuju tempat itu. Sementara di balik gapura, menghadap ke dalam, terdapat hiasan relief tulisan dari huruf Arab dengan bentuk yang sama.

Pemandangan seperti itu begitu tampak menonjol, saat memasuki Masjid Al Wustho Pura Mangkunegaran Surakarta yang berada di kawasan Jalan Kartini, RT 3 RW 9 Kelurahan Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Salah satu tempat ibadah yang telah berumur seratus tahun lebih.

Menurut buku berjudul Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta, masjid tersebut dibangun pada masa Pura Mangkunegaran diperintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunagoro ke VII (1916-1944). Namun, masih menurut buku itu, peletakan batu pertama sudah dilakukan jauh sebelumnya, yakni pada 1878.

Dengan demikian, jika dihitung dari peletakan batu pertama hingga selesai dibangun (pada 1918), diperlukan waktu pembangunan sekitar 40 tahun. Dan jika dihitung dari peletakan batu pertama, sekarang berumur 125 tahun.

Besar dan Kecil

Keberadaan masjid tersebut memang sangat menarik. Sebab selain sudah berusia tua, namanya juga mengandung makna tertentu. Menurut penuturan Mas Ngabei (MNg) H Mu'nin Fatoni, salah seorang pengurus masjid, Al Wustho itu artinya tengah.

"Mengapa dinamakan tengah, karena berada di antara dua sisi. Maksudnya, tidak besar seperti Masjid Agung di Keraton Kasunanan Surakarta, tetapi juga tidak kecil seperti Masjid Kepatihan di Dalem Kepatihan," jelasnya saat ditemui Selasa (28/10) kemarin.

Hingga sekarang, Masjid Al Wustho masih berfungsi sebagaimana lazimnya. Yakni, menjadi tempat untuk menjalankan ibadah shalat bagi para muslimin, tempat pengajian, dan juga acara-acara keagamaan lain.

"Kadang juga digunakan untuk acara perkawinan, atau melakukan upacara akad nikah," ungkap Mu'nin Fatoni.

Sementara memasuki bulan puasa ini, lanjutnya, kegiatan keagamaan yang di laksanakan di masjid yang mampu menampung 1.000 jamaah itu juga bertambah semarak. (Wisnu Kisawa-17s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA