
| Rabu, 29 Oktober 2003 | Olahraga |
Bursa Calon Pelatih Persis Segera Dibuka
SOLO-Untuk mempersiapkan diri menghadapi Kompetisi Divisi II PSSI tahun depan, Persis Solo mulai berbenah diri dengan segera membuka bursa calon pelatih. Kriterianya, mereka harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, minat, dan dedikasi tinggi. ''Kami akan membuka bursa calon pelatih, tetapi akan dikoordinasikan dulu dengan segenap pengurus. Para calon juga harus memenuhi beberapa persyaratan,'' kata Ketua Harian Rio Suseno. Sekalipun ''penjaringan'' belum dilakukan, nama-nama calon sudah mulai beredar. Misalnya, pelatih Persijatim di KLI IX Yusack Sutanto, mantan pelatih PSS dan Deltras Suharno, dan mantan pelatih PSB Bogor dan Persegi Gianyar Sutan Harhara. Yusack Sutanto yang dihubungi melalui ponselnya di Jakarta mengaku belum ada pembicaraan dengan Persis. Namun, dia mengakui, saat melatih Persijatim, dia pernah mengatakan sanggup melatih tim Pra-PON Jateng dan Persis asal melalui perjanjian tetulis. ''Semua itu harus ada ketegasan dan ada perjanjiannya,'' katanya. Yusack juga mengatakan, pada Jumat lusa dia dipanggil oleh pengurus Persijatim. ''Namun, belum tahu apa yang akan dibicarakan,'' ujar dia. Berbobot Pelatih Kiper PSPS Pekanbaru Benny Van Breukelen yang ditemui saat berada di Solo mengaku tidak berminat melatih Persis. ''Mereka harus menata organisasinya dulu agar berdiri tegak secara profesional,'' katanya. Mantan kiper nasional jebolan Niac Mitra dan pernah membela tim Arseto Solo itu mengaku heran dengan langkah Persis. Pasalnya, di Solo cukup banyak pelatih berbobot. Bahkan, para pelatih asal kota itu, kata dia, disegani di luar daerah. Terbukti beberapa di antara mereka dipakai di berbagai tempat. ''Nasrul Koto menjadi pelatih di Binjai dan Hartono Ruslan di Perseden. Bahkan, Eduard Tjong yang pernah mengenyam pendidikan kepelatihan di Brasil saat ini menjadi pelatih tim Pra-PON Bali. Lalu, mantan Asisten Pelatih Arseto Puspanaden pernah menjadi pelatih Persibat Batang dan kini melatih Persiku Kudus. Mengapa Persis susah-susah cari pelatih luar dengan bayaran mahal?'' tanyanya. Dia mengingatkan, di Solo masih ada Mansyur Masaniga yang juga jebolan kursus pelatih di Brasil dan pernah membawa tim yunior Persis lolos ke Jakarta. ''Mengapa mereka tidak dimanfaatkan? Kasus pelatih itu sama dengan pemain. Di Solo banyak pemain andal. Namun, beberapa pemain 'lari' ke klub luar kota. Mengapa itu juga tidak dimanfaatkan?'' kata dia. Dia menyebutkan, jika Persis mau maju, pengurus harus bertindak profesional. ''Tidak bertindak menurut keinginan pribadi,'' ujarnya. (P44-22e) |