
| Rabu, 29 Oktober 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Arteri Semarang-Demak Sebaiknya Jalan LayangSEMARANG- Rencana pembuatan jalan arteri Semarang hingga perbatasan Demak sebaiknya berupa jalan layang. Dengan model jalan layang, akses kegiatan nelayan dan masyarakat dari darat menuju laut tidak akan terganggu. Ini karena jalan yang akan lewat sebelah utara Terminal Terboyo hingga perbatasan Kabupaten Demak itu diperkirakan akan melewati daerah tambak dan permukiman nelayan. ''Bila dibuat model jalan konvensional, yakni model jalan biasa pada umumnya, jelas akan membatasi akses kegiatan nelayan dan masyarakat ke pantai. Padahal, kawasan itu merupakan daerah pantai dan ruang publik yang tidak bisa dibatasi kegiatannya,'' tutur dosen Arsitektur Unika Soegijapranata Ir Pudjo Koeswhoro MSA, Selasa (28/10). Selain itu, jalan konvensional diperkirakan akan memotong jalan sekunder yang berada di daerah permukiman. Menurutnya, secara ekonomis model jalan konvensional proses pengerjaan konstruksi dan pemeliharaannya lebih murah. Berbeda dari model jalan layang yang harus membutuhkan dana yang lebih besar. Namun, lanjut dia, jika melihat struktur tanah di daerah sekitar pantai utara Semarang yang terus turun, tidak tertutup kemungkinan model jalan konvensional untuk jangka panjang akan terendam. Selain itu, pembuatan jalan arteri tidak diperbolehkan berhubungan langsung dengan jalan yang menjadi akses ke permukiman. Jika melalui jalan pemukiman sangat berbahaya, karena syarat kecepatan kendaraan di jalan arteri adalah di atas 80 km/jam. Tidak Masalah Ketika disinggung mengenai kajian konstruksi yang akan dipakai di daerah yang tanahnya masih berawa dan mengalami penurunan, Pudjo mengungkapkan secara teknik tidak menjadi masalah. Sebab, kemajuan teknologi konstruksi telah mampu mengatasi hambatan tersebut. ''Namun, masih perlu dilakukan analisis dampak lingkungan (amdal) dan penelitian struktur tanah yang ada di daerah itu. Amdal yang dilakukan, yakni secara regional, karena melibatkan dua daerah Semarang dan Demak,'' ujarnya. Hal ini dilakukan, katanya, agar antara kedua daerah tersebut tidak terjadi silang pendapat berkaitan dengan pembuatan jalan tersebut. Selain itu, penelitian struktur tanah perlu dilakukan untuk mengetahui daya dukung tanah terhadap konstruksi bangunan yang dibuat. Dengan begitu dapat diperkirakan kemampuan maksimal tiang pancang untuk mengatasi pergerakan dan struktur tanah. (H2-73k) |