logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 29 Oktober 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Sumur Maut Tak Boleh Digunakan

  • Terkait Dua Korban Gas Beracun

SEMARANG UTARA- Menyusul kematian dua warga Tambra Dalam Utara, Suryadi (46) dan Wahyudi (40), untuk sementara sumur Musala Al Istiqomah tidak boleh digunakan. Hal itu sesuai dengan permintaan warga. Mereka masih trauma lantaran sumur itu menelan dua korban jiwa, Senin (27/10) lalu.

''Ini sesuai dengan permintaan warga sekitar, sumur untuk sementara tidak boleh digunakan. Sebab tahu sendiri, baru saja ada musibah di sumur itu,'' tutur Ali Imron (51), imam rawatib Musala Al Istiqomah yang tinggal di Tambra Dalam Utara, RT 1 RW 1, Kuningan. Dia ditemui seusai memimpin doa bersama di sumur tersebut, kemarin.

Doa bersama diikuti beberapa kerabat korban yang meninggal atau yang masih dirawat di rumah sakit, antara lain orang tua almarhum Suryadi, Ahmad (65), dan orang tua korban pingsan Rusanto, Abdurahman (72), warga Lasem, Rembang.

Abdurahman mengaku sengaja datang ke sumur tersebut untuk ikut berdoa agar tidak lagi terjadi insiden serupa pada masa datang.

Dalam rangkaian doa itu, ditabur pula bunga setaman dan bunga-bunga jenis lain yang oleh warga lazim disebut bunga buakaan. Berdasarkan keyakinan warga, bunga setaman itu sebagai perlambang atau syarat doa bagi korban yang meninggal. Tujuannya, agar arwahnya diterima Tuhan.

Adapun bubur berwarna merah dan putih untuk doa atau syarat bagi korban yang sakit. Diharapkan, diberikan kesembuhan dan sehat kembali.

Seperti diberitakan, dua jamaah takmir Musala Al Istiqomah Jalan Tambra Dalam Utara, Kuningan tewas saat bergotong royong membuat sumur di depan musala tersebut, Senin (27/10). Selain itu, dua anggota jamaah lainnya pingsan dan dirawat di RS Bhakti Wira Tamtama Jalan Dokter Sutomo.

Mereka yang meninggal adalah Suryadi (46) dan Wahyudi (40), keduanya warga RT 7 RW 9 Tambra Dalam, Kuningan. Jenazah sudah dikubur di Pemakaman Umum Bergota. Adapun korban yang pingsan karena sesak napas adalah Suradi (65) dan Rusanto (29), warga RT 1 RW 9, Tambra Dalam, Kuningan. Mereka diduga menghirup gas beracun di sumur itu.

''Pengganggu''

Ali Imron mengatakan, dirinya tidak mengetahui secara persis kapan sumur musala itu mulai digunakan. Setidaknya ada dua hal yang membuat warga sampai saat ini enggan menggunakan air sumur untuk wudu.

Secara akal pikiran, ujar dia, kandungan zat kimia dalam air sumur belum diketahui secara pasti. Namun jika warga ceroboh, bisa jadi menjadi korban selanjutnya lantaran air sumur ternyata mengandung racun.

Warga percaya, insiden yang baru saja menimpa kedua tetangga mereka, karena ada ''pengganggu'' yang tidak berkenan lokasi itu untuk sumur. ''Mungkin juga, sumur itu akhirnya dijadikan sebagai kenang-kenangan warga sekitar untuk mengenang kematian dua warganya. Padahal sebelum membuat sumur, warga sudah mengadakan selamatan di lokasi itu. Tujuanya, selain minta izin kepada Allah, juga agar tidak diganggu oleh 'makhluk' lainnya,'' paparnya.

Korban Rusanto (29) warga RT 1 RW 9, Tambra Dalam Utara masih dirawat di RST Bhakti Wira Tamtama. Sementara itu, seorang korban lainnya, Suradi (65), sudah diperbolehkan pulang.

Ali Imron mengemukakan, meski baru saja terjadi insiden di musala tersebut, warga tetap memanfaatkan musala untuk kegiatan Ramadan. Tidak hanya untuk shalat wajib, tetapi juga untuk shalat tarawih, tadarus, dan pengajian tiap menjelang buka puasa.

''Bahkan warga secara penuh kesadaran, tanpa diperintah, sudah menyediakan jaburan (makanan) ke musala,'' katanya. Setiap usai shalat tarawih, kata dia, jamaah juga diminta memanjatkan doa untuk para korban.(G5-83j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA