logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 29 Oktober 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Baru Satu Persen Guru di Daerah Memahami KBK

KURIKULUM berbasis kompetensi (KBK) sudah digulirkan ke kalangan pendidik. Meski penerapan di sekolah baru dimulai tahun 2004. Penetapan KBK di sekolah merupakan kebutuhan, bahkan kewajiban, sebagai pemecahan dalam dunia pendidikan.

Salah satu latar belakang penerapan KBK adalah upaya pemberian bekal ke peserta didik agar mampu bersaing dengan bangsa lain, baik secara komparatif maupun kompetitif. Setidaknya tidak sekadar sebagai objek arus globalisasi, tetapi diharapkan mampu menjadi subjek globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan.

''Namun ironisnya, belum semua pendidik memahami KBK, khususnya guru di Kabupaten Pekalongan,'' kata Drs Hadi Sumarto MPd, pemerhati masalah pendidikan yang tinggal di Desa Sumub Kidul, Sragi.

Menurut pengamatan sarjana sastra inggris lulusan Undip tahun 1988 itu, baru sekitar 1% guru di daerahnya mengerti tentang KBK. Padahal, pelaksanaan KBK sudah di ujung mata. Banyak pendidik ternyata masih beranggapan KBK sama dengan cara belajar siswa aktif (CBSA).

Persepsi itu keliru dan menyesatkan. KBK berbeda karakteristik dari kurikulum sebelumnya, seperti kurikulum 1968, 1975, 1984, dan 1994. Ada beberapa karakteristik KBK. Pertama, menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa. Kedua, berorientasi ke hasil belajar dan keberagaman. Ketiga, penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode bervariasi. Keempat, pusat pembelajaran bukan guru melainkan siswa. Kelima, penilaian ditekankan pada proses dan hasil belajar untuk menguasai atau mencapai kompetensi.

Jadi, kata dia, konsep dasar KBK adalah human competence dengan sasaran kemampuan nyata dan mastery learning dengan asumsi bahwa peserta didik mampu memiliki seperangkat kemampuan jika diberi pembelajaran bermutu dan dalam waktu cukup.

Namun semua itu sebelum diterapkan sungguh-sungguh harus didiskusikan, diujicobakan, dan disosialisasikan. Dengan tujuan, memperoleh masukan yang bermakna sehingga penerapan KBK berlangsung efektif dan efisien.

Dia berpendapat dengan melihat karakteristik KBK, tantangan bagi guru cukup banyak. ''Ada sedikitnya delapan poin harus dikerjakan guru," kata dia.

Pertama, merancang dan melaksanakan pembelajaran kontekstual yang kreatif dan inovatif. Kedua, mengembangkan mental siswa. Ketiga, menyusun unit pembelajaran. Keempat, mengembangkan silabus.

Kelima, mengupayakan pembelajaran yang mekanistis. Keenam, memberikan pelayanan kepada siswa. Ketujuh, merancang penilaian berkelanjutan, akurat, dan konsisten. Kedelapan, meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran.(Syam Dakrita-34g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA