logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 24 Oktober 2003 Sala  
Line

Bupati Beri Santunan Korban Kecelakaan

KARANGANYAR-Meski masih diselimuti suasana duka, SD Kemiri 04 yang terletak di Jalan Raya Solo-Sragen KM 9 tidak diliburkan. Para siswa dari kelas satu hingga kelas enam masih menerima pelajaran seperti biasa. Ketika istirahat, mereka juga bermain seperti biasanya. ''Sekolah memang tidak meliburkan para siswa, meski suasana masih duka. Siswa kelas enam yang sembilan siswanya yang mengalami kecelakaan juga tidak diliburkan,'' tutur guru kelas enam Arif Djuliono ketika ditemui Suara Merdeka di sekolah yang terkena musibah kemarin.

''Namun demikian, pagi tadi untuk menghormati almarhum Rian Dedi yang meninggal, seluruh guru dan para siswa mengadakan doa bersama dalam sebuah upacara. Nanti siang setelah pulang sekolah, siswa kelas enam akan menjenguk teman-temanya yang terkena musibah, baik yang masih di rumah sakit maupun yang sudah berada di rumah,'' tambahnya.

Dikatakan, siswa yang mengalami kecelakaan bukan enam, tapi sembilan. Satu meninggal dunia dan delapan lainnya luka. Mereka yang masih menjalani perawatan di rumah sakit adalah Fitri Nurmaini (bukan Sri Murmaini) dan Ade Marten di RS Dr Oen, Solo serta Joko Mulyono di RS Koestati Solo. Sedang Puji Lestari, Astika, Imam Setyo Raharjo, Iwan Prasetyo, Setyo Nugroho menjalani rawat jalan.

Santunan

Mendengar kecelakaan itu, Plh Bupati Karanganyar Tartopo Soenarto SH tergerak hatinya. Dia yang didamping beberapa staf Setda dan Camat Kebakkramat memberikan santunan pada para korban yang diserahkan pada Kepala SD Kemiri 04 Soewarno. Korban yang meninggal mandapatkan santunan senilai Rp 2 .000.000 dan yang mengalami luka berat Rp 1.000.000.

''Saya minta pada Bapak Soekarno ( orang tua Rian-Red) tetap tabah menjalani cobaan ini. Saya juga minta santunan ini jangan dilihat nilainya. Tapi lihatlah sebagai bentuk perhatian pemerintah pada rakyatnya yang berkesusahan,'' tutur Tartopo.

Widodo (36), petugas kebersihan SD setempat yang juga biasa menyeberangkan para siswa menuturkan, siswa yang menyebarang tidak hanya sembilan atau sepuluh siswa, tapi seluruh siswa kelas enam yang jumlahnya hampir 50 siswa. ''Ketika menyeberangkan mereka tiba-tiba ada truk dari belakang yang mencoba menyalib dari kanan (bukan kiri-Red) delapan mobil di depannya yang sudah berhenti,'' kata dia.

Karena tidak bisa dikendalikan, lanjut dia, truk dari Surabaya yang bermuatan batu bara itu membanting stir ke kiri untuk menghindari laju bus yang ada di depannya. Tak pelak truk itu langsung menabrak 9 dari 50-an siswa yang menyeberang.

Arif mengatakan, untuk memberikan rasa aman para para siswa maupun masyarakat sekitar yang akan menyebarang, serta untuk menghindari kecelakaan yang lebih besar jumlahya, sebaiknya jalan itu diberi zebra cross atau lampu kejut. Sehingga para pengemudi bisa berhati-hati. (G8-34)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA