
| Jumat, 24 Oktober 2003 | Sala |
Pemilu Raya di UNS Diprotes Partai KunciKENTINGAN- Sejumlah mahasiswa dari Partai Kesatuan Cendekia Ikhlas (Kunci), kemarin, mengadakan aksi orasi di kampus UNS Kentingan. Mereka memprotes dan memboikot pelaksanaan pemilihan umum raya (Pemira) UNS yang digelar untuk memilih Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang baru. "Pemilu raya yang dilaksanakan 20-21 Oktober, merupakan sarana mewujudkan tatanan yang baik. Tetapi yang terjadi, ada penyimpangan seperti pada pemilihan yang berlangsung di Fakultas Hukum, daftar nama mahasiswa hilang," kata Korlap Aksi, Febri Hastiyanto. Dijelaskan, penghilangan dokumen yang berisi daftar pemilih di Fakultas Hukum itu tidak akan menjamin keabsahannya, terutama jaminan yuridis formal seorang mahasiswa memilih satu kali (satu suara). "Permasalahan ini telah diselesaikan dengan konsensus yang menghasilkan adanya pemilu ulang hari Kamis dan Jumat ini. Tetapi ternyata kemudian ada temuan baru di D3 Hyperkes dan kampus Manahan," kata Presiden Partai Kunci, Agung Nur P. Di lokasi itu proses pemilihan seharusnya dilakukan 08.00-15.00. Tetapi belum selesai proses pemilihan pada pukul 13.00, kotak suara sudah dibuka. "Terkait dengan masalah ini, kami menyatakan boikot terhadap pelaksanaan Pemira," jelasnya. Sedangkan ketua KPU Raya UNS, Achmad Nasikin, menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi di Fakultas Hukum sudah diselesaikan melalui konsensus. Pemilu di Fakultas Hukum diulang kemarin dan hari ini. "Sedangkan apa yang terjadi di Hyperkes dan Manahan sebenarnya juga sudah ada juklak dan juknisnya," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Partai Kunci sebenarnya sudah terkena diskualifikasi karena tidak mentaati kesepakatan yang telah dilakukan. "Kesepakatannya setelah Pemilu, setiap partai punya kewajiban jaga di gedung Porsima, tetapi ternyata tidak dilakukan Partai Kunci, maka mereka dikenai diskualifikasi. Karena itu boikot mereka kami anggap tidak sah dan pemilu jalan terus," katanya.
Sedangkan Ketua Divisi Kebijakan Publik Partai Gerbang, M Ikhsanuddin, menyayangkan sikap yang dilakukan Partai Kunci. Sebagai sesama partai, dia mengatakan seharusnya semua mau menaati kesepakatan yang telah dibuat.(F11-17) |