logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 24 Oktober 2003 Sala  
Line

Untuk Membeli Cincin Kawin

KARENA tak punya cincin emas untuk bertunangan, Sriyadi (21) alias Bagong, warga Joyontakan, Serengan, Solo, memutuskan untuk menjambret. Namun bukan cincin yang didapatkan dari aksi jalan pintas itu, melainkan kaki kanannya justru tertembus peluru polisi. Adapun rekan yang diajaknya "bekerja", Rian, kini buron.

Kegagalan aksi itu tentu membuyarkan pesta pertunangan antara tersangka dan Rina, pacarnya. Padahal, acara itu dijadwalkan berlangsung sore kemarin. "Yah gimana lagi. namanya saja apes," ungkap Sriyadi, lemas.

Tukang las itu mengaku belum mengabari keluarga calon tunangannya tentang musibah yang kini menimpanya. "Biar sajalah....," katanya pasrah.

Tersangka sejauh ini mengaku bingung dalam memberi alasan yang tepat untuk membatalkan acara pertunangan itu. Dia malu bukan saja terhadap keluarga calon tunangan, tapi juga kepada keluarga besarnya. "Lebih baik mereka saja yang tahu. Saya malu mengabarkan peristiwa ini," katanya lagi.

Bagaimana kalau karena kasus ini, pacar Anda membatalkan rencana hidup bersama? "Saya hanya bisa pasrah. Hanya harapan saya, dia bisa memaafkan kesalahan saya," ungkapnya.

Dia mengungkapkan, sebelum menjalani pekerjaan barunya sebagai pencopet, dia dulu bekerja sebagai tukang las. Namun hasilnya sebagai buruh itu tidak mencukupi. "Karena itu, saya memilih jalan pintas, menjambret."

Terlebih lagi, dia akan meminang seorang gadis yang telah dia pacari setahun terakhir. "Maksud saya sih agar bisa dapat uang untuk membeli cincin kawin. Tapi kok malah tertangkap," katanya.

Soal dunia hitam, bagi Bagong, ternyata bukan pengalaman baru. Setidaknya dia mengaku telah dua kali masuk penjara. Kasus yang dijalaninya pun sama, yakni menjambret. "Ini ketiga kali saya tertangkap," kata tersangka dengan sedikit meringis, menahan sakit akibat luka tembak di kakinya.

Meski luka itu sudah dibalut perban, darah segar masih merembes keluar dari luka, membuat perban yang semula putih menjadi merah darah. "Sekarang sudah mendingan, walau masih clekit-clekit." (Budi Santoso-17i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA