
| Jumat, 24 Oktober 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Penanganan Banjir Harus Per Wilayah
BALAI KOTA -Para Pengusaha Semarang sepakat memilih Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso, menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Masyarakat Peduli Banjir dan Lingkungan Kota Semarang. Kesepakatan itu diambil Kamis (23/10) usai diskusi interaktif kepedulian masyarakat terhadap banjir. Diskusi itu merupakan kerja sama Pemkot dan Undip di ruang Loka Krida Lantai 8 Gedung Moh Ikhsan. Sebagai Ketua, Halim Wijaya, pemimpin usaha Djoen Hardware. Diskusi dihadiri sejumlah pengusaha yang memiliki usaha di Kaligawe. Antara lain, Ir Budi Santoso (Pemimpin Umum Suara Merdeka), Halim Wijaya (Pemimpin Djoen Hardware), Djamin Ceha (Dirut PT Tanah Mas), Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jateng Ir Djoko Slemet Utomo, dan Ir Budi Dharmawan dari PT Cengkeh Zansibar. Public Relations PT Sido Muncul sekaligus Putri Indonesia Tahun 2000 (Bhernika Ifada), dan Irwan Hidayat mewakili Dirut PT Sido Muncul. Ir Budi Santoso mengemukakan, penanganan banjir Kota Semarang harus dilakukan per wilayah, bukan per sungai. Menurutnya, cara itu lebih efektif karena melibatkan berbagai unsur masyarakat. Namun demikian, sebelum hal itu dilakukan, Pemkot harus terlebih dulu membuat konsep dasar yang jelas. Konsep itu nantinya disosialisasikan, sekaligus untuk menggerakkan masyarakat. Dia menyatakan Suara Merdeka bisa ikut menggerakkan masyarakat melalui informasi yang disajikan pada masyarakat. ''Suara Merdeka siap mendukung 200 % dengan pemberian informasi,'' kata dia. Resik-resik Kutho Dia memberi contoh, di Surakarta, Suara Merdeka pernah menggerakkan masyarakat dalam program ''Resik-resik kutho''. Pemkot tak mengeluarkan dana. Sementara itu, Ketua REI Jateng Ir Djoko Slamet Utomo mengemukakan, banjir terjadi akibat peningkatan curah hujan, bukan karena perumahan. Dia mengakui, pembangunan perumahan dengan membuka lahan di daerah atas memang memberikan pengaruh. Namun pengaruh itu bisa dikurangi dengan memberikan kompensasi terhadap alam. Caranya, antara lain dengan hanya menggunakan 40% dari lahan untuk rumah. Lahan itu digunakan untuk membuat sumur resapan. (G6-45) |