logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 24 Oktober 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Pedagang Mengeluh Dugderan Sepi Pengunjung

SEMARANG- Menjelang acara puncak dugderan, para pedagang yang berjualan di lokasi dugderan merasakan suasana yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bila dibandingkan tahun lalu, kali ini selain jumlah pedagangnya lebih sedikit, pengunjungnya juga sepi.

"Seharusnya, kalau pedagang lebih sedikit maka pembeli akan melimpah. Tapi kali ini tidak, pengunjung tetap sepi saja," kata Siti Komariyah, pedagang gerabah asal Bojonegoro yang berjualan di emperan kantor di Jalan Kolonel Sugiono, kemarin.

Dia menjelaskan, salah satu penyebab sepinya pengunjung, karena lokasi berjualan dipindah ke kawasan Kota Lama. Meski pada akhirnya, para pedagang enggan menempati Kota Lama dan hanya menempati depan Kantor Pos Besar dan sebagian Jalan Agus Salim.

"Tahun kemarin Jalan Kolonel Sugiono diperbolehkan untuk jualan. Para pedagang pun ramai dan jualannya laris, sekarang dilarang," kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, para pedagang yang berjualan di lokasi dugderan tahun ini menurun tajam. Kepala UTD Pasar pada Dinas Pasar Pemkot Semarang, Agus Wahyudi mengemukakan, tahun lalu jumlah pedagang yang berjualan di lokasi dugderan mencapai 900 pedagang. Namun tahun ini hanya sekitar 400 pedagang. Salah satu penyebabnya, lokasi dipindah ke Kota Lama. Pemindahan ke lokasi ini ditolak pedagang dan mereka memilih tidak berjualan.

Mengapa para pedagang tidak mau berjualan di Kota Lama? Seorang pedagang, Amril mengemukakan, para pedagang sudah mempunyai naluri sebelum memilih lokasi jualan.

"Sepuluh hari sebelum menempati, mereka survei lokasi yang diinginkan Pemkot. Karena tidak menjanjikan keuntungan kalau berjualan di Kota Lama, akhirnya mereka memilih tidak ikut," tutur pedagang menekuni pekerjaan ini selama 20 tahun.

Dia yang berjualan piring dan peralatan masak ini pun harus berjualan di depan Kantor Pos Besar agak beruntung, karena jualannya lumayan laku. Bukan karena ramai pembeli, tetapi karena barang jualannya tidak ada yang menyaingi. "Kalau baju dan mainan banyak yang jual, sehingga pembeli bisa pilih-pilih. Kalau piring dan alat masak, tidak banyak," kata pria asal Sumatera Barat ini.(G17-73)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA