
| Jumat, 24 Oktober 2003 | Internasional |
Bush Bersikukuh Bela Keputusan Menginvasi IrakCANBERRA - Presiden AS George W Bush kemarin bersikukuh membela keputusannya menginvasi Irak. Dia mengucapkan terima kasih kepada Australia, atas dukungan sekutunya itu pada invasi tersebut. Bush, yang kemarin berada di Canberra (ibu kota Australia) untuk mengakhiri rangkaian kunjungan ke enam negara Asia, mengatakan sekutu yang ikut dalam invasi pimpinan AS punya tanggung jawab khusus untuk menjaga perdamaian. Tiga demonstran ditangkap dalam unjuk rasa yang melibatkan sekitar 2.000 orang. Mereka menolak kunjungan Bush, kata para saksi mata. Seorang pria dibekuk polisi ketika dia mencoba mendekati tempat Bush makan siang bersama PM Australia John Howard. Seorang wanita yang mengambil topi seorang polisi, juga ditangkap. Di antara para demonstran terdapat seorang selebritas televisi, ''Crocodile Hunter'' Steve Irwin. Dia memakai pakaian khasnya: celana pendek berwarna khaki. Juga tampak bintang tenis Lleyton Hewitt. Ketika Bush berpidato di Parlemen, para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika Serikat dan mengibarkan pamflet-pamflet bertuliskan ''Yankee, Pulanglah'' dan ''AS Penghisap''. Di tengah massa, terdapat orang yang tampil dengan dandanan Usamah bin Ladin. Dia membawa plakat bertuliskan ''Tangkap Saya''. Dua pengunjuk rasa yang lain dibuat mirip Saddam Hussein dan Bush. Keduanya bergandengan tangan. Bukan Polisi Bush mengatakan di depan Parlemen Australia, negara itu mempunyai tanggung jawab khusus untuk menjaga stabilitas dan keamanan Pasifik. ''Keamanan di kawasan Asia Pasifik akan selalu bergantung pada rasa tanggung jawab suatu bangsa terhadap negara-negara tetangganya, seperti apa yang dilakukan Australia,'' katanya, dalam pernyataan yang diterbitkan pihak Gedung Putih. Pernyataan Bush itu disampaikan, sehari setelah presiden AS itu mengatakan Australia merupakan ''polisi'' kawasan Asia Tenggara dalam kampanye antiterorisme. Howard mendapat kritikan pedas karena ikut mengirim pasukan Australia ke Irak. Para pemimpin negara-negara tetangga pun menjaga jarak dengannya, dan menyebut dia sebagai ''polisi yang siap memasang borgol''. ''Perlu saya jelaskan sekali lagi, saya tidak melihat Australia sebagai polisi atau wakil kepala polisi yang berperan sebagai satuan penegak hukum di kawasan ini,'' katanya, mengomentari pernyataan Bush. Canberra berusaha keras dalam beberapa tahun terakhir ini untuk menghilangkan rasa kesal bangsa Asia, yang diakibatkan ucapan PM Howard pada 1999. Waktu itu dia mengatakan Australia adalah wakil sheriff Amerika Serikat. Bush, yang melakukan kunjungan 20 jam di Canberra, bertolak pulang ke negaranya setelah menyampaikan penghargaan kepada PM Howard atas segala dukungannya selama ini, terutama dalam invasi ke Irak. (ant-30) |