logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 24 Oktober 2003 Internasional  
Line

Korut Ekspor 400 Rudal Scud ke Timur Tengah

SEOUL - Korea Utara (Korut) telah mengekspor 400 rudal Scud ke negara-negara Timur Tengah sejak pertengahan 1980-an, ungkap Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), Kamis.

Iran, Irak, Suriah, dan Yaman adalah pelanggan-pelanggan terbaik rudal Scud buatan Korut, kata kementerian tersebut, dalam sebuah laporan untuk Parlemen Korsel.

''Sejak pertengahan 1980-an, Korut telah mengekspor 400 rudal Scud berikut bagian-bagian yang berkaitan dengan rudal itu ke kawasan Timur Tengah,'' bunyi laporan tersebut, seperti diungkapkan Kim Ki-beom (juru bicara kementerian pertahanan).

Laporan itu tidak mengatakan berapa jumlah uang diperoleh negara komunis tersebut dari hasil ekspor rudal tersebut, tetapi kantor berita Yonhap menyebut jumlahnya sekitar 110 juta dolar AS (sekitar Rp 935 miliar).

Ekspor rudal merupakan sumber utama dari pe- rolehan devisa bagi Korut, yang dituduh Washington sebagai pengembang terkemuka senjata pemusnah massal di luar AS.

Angkatan Laut Spanyol yang bertindak berdasarkan data intelijen AS, tahun lalu menahan sebuah kapal kargo Korut tanpa bendera yang membawa 15 rudal Scud untuk Yaman. Kapal itu disergap di lepas pantai Yaman.

Amerika mengenakan sanksi-sanksi baru Juli lalu terhadap sebuah perusahaan Korut yang terlibat dalam ekspor rudal ke Yaman.

Washington bukan hanya cemas pada penjualan rudal oleh negara stalinis itu, tetapi juga pengembangan rudal-rudal balistiknya yang berjangkauan tembak jauh, yang mampu menjangkau wilayah AS.

Beli Senjata Baru

Pyongyang mengejutkan dunia pada Agustus 1998 lalu, dengan uji coba penembakan rudal balistiknya, jenis Taepodong-1. Rudal tersebut, dengan jangkauan tembak sampai 2.000 km, melintasi Jepang tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu.

Namun Korut berkilah, peluncuran rudal balistik itu merupakan uji coba yang bertujuan menempatkan sebuah satelit di orbit Bumi.

Laporan Kementerian Pertahanan Korsel itu juga mengatakan, Pyongyang mengeluarkan dana sekitar 400 juta dolar AS selama lima tahun, sampai 2002, untuk membeli jet-jet tempur, tank, helikopter, dan senjata lain yang sebagian besar dari Cina dan Rusia.

Ironisnya, Korut justru mengandalkan bantuan internasional untuk membantu pengadaan pangan bagi 22 juta jiwa penduduknya sejak pertengahan 1990-an.

Pasalnya, perekonomian negara tersebut salah urus, dan juga terjadi bencana alam banjir dan kekeringan berkepanjangan yang memaksa banyak rakyatnya memakan rerumputan untuk beertahan hidup.

Jaminan Keamanan

Sementara itu, seorang pakar keamanan AS mengatakan tawaran Presiden AS George W Bush untuk menjamin keamanan Korut, merupakan upaya serius untuk memecah kebuntuan isu nuklir negara komunis itu.

Tetapi, katanya, tawaran tersebut mungkin tidak cukup kuat untuk melucuti senjata nuklir Pyongyang.

Pada saat berlangsung KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Bangkok pekan ini, Bush mengatakan dia ingin merundingkan semacam jaminan keamanan multilateral, tetapi tanpa traktat bilateral, jika negara komunis itu menghentikan program senjata nuklirnya.

Michael O'Hanlon, pengarang buku baru tentang krisis nuklir, mengatakan langkah Bush tersebut merupakan tanda-tanda baik bahwa Washington akhirnya mulai memberikan perhatian layak kepada Korut, setelah selama ini seluruh perhatian dicurahkan ke Irak.

Tetapi pakar dari Brookings Institution yang berbasis di Washington itu mengatakan, Pyongyang mungkin tidak akan tunduk pada Bush atau merespons suatu agenda yang hanya terfokus pada isu nuklir.

''Korut negara yang berantakan secara ekonomi dan politik. Dan saya kira, gagasan bahwa kita cukup memfokuskan diri pada isu nuklir, tidaklah bijaksana,'' kata O'Hanlon.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA