logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 24 Oktober 2003 Ekonomi  
Line

BI Tetap Keluarkan Kebijakan Strategis

JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono menegaskan, meski tahun depan terjadi kevakuman pemerintahan akibat Pemilu, Bank Indonesia akan tetap mengeluarkan keputusan-keputusan strategis untuk menjaga kestabilan moneter.

Pasalnya, BI merupakan lembaga independen yang bukan merupakan bagian pemerintah sehingga tetap bisa mengeluarkan keputusan strategis. "BI akan menjadi satu-satunya institusi publik yang akan mengatasi ketidakpastian di tahun 2004 nanti. Sebab, BI bukan merupakan bagian pemerintah," tegas Hartadi A Sarwono, di sela-sela acara temu responden survei Bank Indonesia di Gedung BI Jl Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (23/10).

Dia mengatakan, pada pelaksanaan Pemilu nanti, sepanjang April-Oktober 2004 diperkirakan pemerintah tidak akan mengambil keputusan apa pun sehingga akan semakin menimbulkan ketidakpastian.

Pasalnya, penentuan presiden baru akan dilakukan pada Oktober 2004. Sementara itu dalam sambutannya, Hartadi menegaskan, Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan yang hati-hati di bidang moneter melalui berbagai kebijakan yang ditempuh dan beberapa instrumen yang dipakai.

BI akan berupaya mengendalikan inflasi pada tingkat yang rendah. Inflasi yang rendah sangat diperlukan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi saat ini. "Dengan inflasi yang rendah, diharapkan suku bunga nominal perbankan dapat diturunkan pada tingkat yang wajar. Suku bunga yang rendah dapat mengurangi biaya produksi dunia usaha sehingga memberikan insentif bagi daya saing produksi dalam negeri," paparnya.

Penelitian

Terkait dengan perumusan dan penetapan kestabilan harga, BI akan menempuh berbagai kajian dan penelitian terutama di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran.

Hartadi menjelaskan, sebagai otoritas moneter, BI akan berupaya merumuskan kebijakan moneter yang kondusif agar sektor riil bergerak. Salah satu kuncinya adalah efektif atau tidaknya transmisi kebijakan moneter itu ke sektor riil.

"Pada era pascakrisis, tantangan terbesar yang dihadapi kebijakan moneter adalah semakin berkurangnya efektivitas kebijakan moneter dalam memengaruhi aktivitas perekonomian," terangnya.

Permasalahan ini, lanjut Hartadi A Sarwono, berakar pada kondisi neraca perbankan yang masih belum normal dan intermediasi perbankan yang belum pulih. (dtc-82n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA