logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 22 Oktober 2003 Tajuk Rencana  
Line

Perekonomian 2004 Masih Akan Lamban

- Berbagai prediksi tentang kondisi perekonomian nasional tahun depan sudah banyak dikeluarkan baik oleh Bank Indonesia, lembaga pengkajian, pakar ekonomi, dan lain-lain. Pada umumnya mereka berpandangan perekonomian tahun 2004 masih akan bergerak lamban. Dengan laju pertumbuhan sekitar 4,5% atau tidak beda jauh dari apa yang dicapai tahun ini. Sampai dengan triwulan III tahun 2003, pertumbuhan ekonomi year on year (YoY) mencapai 4,14%. Angka pertumbuhan di bawah 5% jelas kurang ideal. Untuk menyerap ledakan angkatan kerja dan membengkaknya jumlah pengangguran di negara kita, diperlukan laju pertumbuhan di atas 7% per tahun. Sayang sekali, untuk tahun depan, keinginan itu tampaknya masih akan sulit dipenuhi. Upaya pemulihan ekonomi masih banyak menghadapi kendala.

- Menurut Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, penyebab kelambanan gerak perekonomian tetap sama. Yakni, kurang adanya percepatan dalam kegiatan sektor riil baik investasi maupun perdagangan. Selama ini laju pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh konsumsi masyarakat. Padahal kita tahu, consumption driven semacam itu labil dan rawan. Ketika pada suatu saat daya beli masyarakat melemah, konsumsi kembali menurun dan perekonomian pun akan merosot. Yang paling baik pergerakan ekonomi yang didorong oleh investasi dan perdagangan, baik barang maupun jasa. Selain akan menambah kemampuan produksi nasional dan nilai tambah, hal itu juga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Bukankah tujuan pembangunan ekonomi adalah menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

- Mengapa sektor riil masih lamban bergerak? Antara lain diakibatkan oleh faktor dari dalam, yakni belum selesainya proses restrukturisasi perusahaan. Adapun faktor dari luar adalah belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan nasional. Bank-bank sudah memiliki banyak kelebihan dana, tetapi belum mampu menyalurkan dalam bentuk kredit. Kalaupun kredit sudah ramai, itu lebih banyak kredit konsumtif, yang sebenarnya kurang sehat bagi sebuah perekonomian jika jumlah terlalu over. Sementara itu, di tingkat makro, biaya stabilisasi moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sudah mencapai antara Rp 14 triliun - Rp 16 triliun setiap tahunnya. Kalau dana sebesar itu hanya disimpan dan berputar-putar di bank tentu tidak banyak berguna, di samping bisa mengakibatkan ekonomi memanas.

- Sebenarnya kita telah memiliki momentum yang baik dengan membaiknya indikator makroekonomi, seperti rendahnya laju inflasi, menurunnya suku bunga bank secara signifikan, atau menguatnya kurs rupiah dan indeks saham. Perbaikan indikator makro itu bisa menumbuhkan harapan dan kepercayaan. Tingkat ekspektasi konsumen meningkat. Demikian juga minat berinvestasi. Namun dalam kenyataannya, kenaikan investasi belum seperti diharapkan. Ada perbaikan yakni kenaikan penanaman modal asing sekitar 23,4%, tetapi belum dibarengi dengan peningkatan penanaman modal dari dalam negeri. Ketika gerak sektor riil masih terbatas dan konsumsi meningkat, yang terjadi adalah membanjirnya barang-barang impor yang relatif murah. Dan, inilah yang disebut dengan pertumbuhan semu.

- Tahun 2004 akan berlangsung pemilihan umum. Peristiwa politik yang merupakan salah satu puncak demokrasi itu tak terlalu dikhawatirkan menjadi penganggu bagi penciptaan iklim perekonomian yang kondusif. Dikatakan tak terlalu, karena pasti tetap ada kemungkinan dampak atau pengaruhnya. Paling tidak, kalangan dunia usaha termasuk perbankan akan menyikapi lain. Untuk mencari aman dan memperkecil risiko biasanya sikap itu adalah wait and see, melihat dan menunggu dulu perkembangan. Atau berarti juga menunda ekspansi dan investasi hingga sesudah pemilihan umum selesai. Padahal, keseluruhan proses pemilu baru akan berakhir pada Oktober 2004. Jadi, hampir sepanjang tahun itu ada faktor ketidakpastian yang salah-salah akan menjadi kendala baru dalam mempercepat pemulihan.

- Tidak ada yang bisa dilakukan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi selain meningkatkan kegiatan produksi di sektor riil. Terlalu riskan kita berlama-lama dengan situasi seperti sekarang yang hanya mengandalkan kekuatan konsumsi. Kredit bank yang jor-joran di sektor konsumtif seperti otomotif dan elektronik hanya akan memperlebar keran impor, tetapi kurang memacu perekonomian dalam negeri. Kredit untuk perumahan masih cukup baik karena sektor properti termasuk sentral dan membawa efek multiplier yang cukup besar. Bagi kita, yang penting adalah terus menumbuhkan kepercayaan agar kegiatan sektor riil segera lancar. Perbankan perlu terus meningkatkan fungsi intermediasinya dengan menyalurkan kredit lebih besar, asalkan bukan hanya mengandalkan kredit konsumtif.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA