logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 22 Oktober 2003 Sala  
Line

Jaringan Telepon Tambah Daya Tarik SSB

RENCANA pemasangan jaringan telepon di kawasan wisata Solo-Selo-Borobodur (SSB) atau Kecamatan Selo, Boyolali, merupakan terobosan untuk meningkatkan wisatawan.

Sarana komunikasi memudahkan bagi wisatawan memilih homestay atau tempat penginapan. Selain itu, merangsang warga masyarakat beramai-ramai membangun homestay.

Pemasangan jaringan telepon di kawasan SSB merupakan upaya Gubernur. Karena itu, diharapkan November jaringan telepon sudah berdering di kawasan SSB.

Camat Selo Drs Luwarno MM mengharapkan pemasangan jaringan telepon di kawasan SSB menjadi salah satu program 100 hari Gubernur Jateng. Dengan demikian, poyek itu segera terlaksana sehingga masyarakat dapat menikmati.

''Masuk program 100 hari merupakan keinginan masyarakat Selo. Saya hanya menyampaikan aspirasi,'' katanya.

Terlepas masuk atau tidak dalam program itu, pemasangan jaringan telepon di kawasan SSB merupakan angin segar dan akan membawa perubahan di kawasan wisata. Setidaknya menimbulkan daya tarik bagi masyarakat untuk mendirikan homestay. Saat ini sudah ada ratusan penduduk dijadikan homestay. Bila jaringan telepon baru terpasang tentu lebih menimbulkan daya tarik.

Masih Terbatas

Kapasitas jaringan telepon, kata Luwarno, sementara baru 110 nomor. Secara bertahap ditambah sesuai dengan kebutuhan atau permintaan warga. Saat ini yang mendaftar ratusan orang. Karena terbatas sementara diprioritaskan pada kantor pemerintah dan kawasan wisata, khususnya homestay.

Salah seorang pemilik homestay, Djono, menuturkan pemasangan jaringan telepon sudah lama ditunggu-tunggu warga. Sarana komunikasi itu sangat vital untuk memajukan kawasan SSB. Hampir setiap wisatawan yang menginap di homestay menanyakan fasilitas tersebut. Mereka berharap bisa mengubungi pemilik penginapan melalui telepon jika hendak menginap lagi.

''Telepon seluler di sini tidak memiliki sinyal. Jadi fasilitas telepon sangat diharapkan dan ditunggu-tunggu warga,'' katanya.

Kawasan wisata di Selo atau SSB, kata dia, dirancang menjadi perkampungan homestay. Jadi tidak akan ada hotel atau tempat penginapan cukup mewah seperti di Bandungan dan Kopeng. Beberapa waktu lalu sebagian warga Selo dikirim Gubernur ke Bali untuk belajar mengelola homestay.

''Saya optimistis pemasangan jaringan telepon menimbulkan gairah wisatawan untuk berkunjung dan mempercepat perkampungan homestay terwujud,'' kata dia. (Suti Harjoyo-80g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA