
| Rabu, 22 Oktober 2003 | Olahraga |
Kebrutalan di Stadion UPI
Tidak Siap, Persib Tetap Memaksakan Diri Jadi Tuan RumahSEPERTI itu hasilnya, bila segala sesuatu seolah-olah dipaksakan demi memenuhi ambisi. Keberhasilan Persib Bandung menjuarai Liga Bogasari U-18 Piala Suratin ternoda, akibat wasit Aris Munandar memaksakan kehendak sehingga partai final dibumbui kebrutalan. Sebenarnya, Kota Semarang sudah ditunjuk secara resmi oleh PSSI menjadi penyelenggara putaran final kejuaraan itu. Surat keputusan dari PSSI juga sudah ditandatangani Sekjen Tri Goestoro, hanya tinggal mengirimkan kepada PSIS, Persijap Jepara, Persijatim Jakarta Timur dan Persib Bandung. Secara mendadak, keputusan itu dibatalkan. Alasannya, sponsor menghendaki Bandung menjadi tuan rumah. Ketua Panitia Ronny Patinasarani menyebutkan di Semarang sudah ada Pabrik Tepung Terigu Sri Boga Raturaya yang berlokasi di Kompleks Pelabuhan tanjung Emas. ''Kedua pabrik ini sudah punya komitmen bersama, mengenai promosi,'' ujar Ronny waktu itu. Kemungkinan penunjukan Bandung tanpa dilengkapi SK. Terbukti sewaktu PSIS berangkat ke Bandung, dua hari menjelang putaran final dimulai, mereka hanya diberitahu secara lisan. ''Tanpa SK, bisa saja terjadi. Selain waktunya sudah mendesak, SK yang sudah ditandatangani oleh Pak Tri Goestoro telanjur menetapkan PSIS jadi penyelenggara,'' tutur Asisten Pelatih PSIS, Drs Ashadi. Padahal, penunjukan PSIS menjadi penyelenggara mendapat dukungan Persijap dan Persijatim, yang mempunyai masalah dengan Persib. Bila putaran final berlangsung di Semarang, dipastikan stadion akan semakin ramai, karena setiap hari pendukung Persijap bakal berbondong-bondong datang ke Semarang. Protes Setelah tiga tim datang ke Kota Kembang, muncul masalah-masalah baru. Hal itu terungkap saat temu teknik di Sekretariat Persib di Jl Buah Batu, sehari menjelang pertandingan di Stadion Siliwangi. Dari jadwal pertandingan, sampai bantuan tuan rumah terhadap tim tamu ikut dipertanyakan pada acara yang dihadiri dua wakil PSSI, yaitu Ronny Patinasarani dan Halilintar Gunawan. Pada putaran-putaran sebelumnya, jadwal pertandingan selalu diundi dalam temu teknik. Tetapi di Bandung tidak. Jadwal langsung dibagi-bagikan, sehingga Ashadi melakukan protes, karena timnya sudah harus bertemu dengan Persib di hari pertama. Namun, akhirnya dia mau menerima jadwal tersebut. Dipertanyakan pula soal kewajiban Persib menanggung makan dan penginapan tiga tim tamu, karena ada kesan ingkar janji. Setiap pemain dan ofisial hanya diberi jatah Rp 40.000/hari untuk penginapan dan konsumsi. Setelah PSIS melakukan Protes, dinaikkan menjadi Rp 50.000/hari. Namun, itu masih jauh dari dugaan semula. PSIS harus banyak nombok, karena dana yang dikeluarkan setiap hari sebesar Rp 150.000/orang untuk penginapan di Hotel Istana. Sedangkan Persijap harus mengeluarkan dana Rp 175.000/hari/orang, karena menginap di Hotel Mitra. ''Ketika kami mengajukan diri sebagai tuan rumah, kami menjanjikan menanggung biaya transportasi pulang dan pergi. Di Bandung lain,'' kata Manajer Tim PSIS Yunior Suka Adi Satya. Bukan sebatas itu saja. Setelah dua kali main di Stadion Siliwangi, pada pertandingan ketiga, lokasinya terpaksa dialihkan ke stadion lain. Pasalnya, Stadion Siliwangi digunakan untuk pertandingan antara TNI dengan tentara Malaysia. Pertandingan hari ketiga akhirnya dimainkan di Stadion Persib dan Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (dulunya IKIP Bandung). Itu menandakan panitia pertandingan tidak memperhitungkan kalau Stadion Siliwangi akan digunakan untuk acara lain. Stadion Persib yang tidak layak pakai karena tidak ada rumputnya, dipaksakan untuk menggelar pertandingan antara Persib melawan Persijatim. Penonton Bila pertandingan di Bandung itu digunakan sebagai sarana promosi, jelas tidak mengena sasaran. Selama tiga hari pertama putaran final, jumlah penontonnya tidak seberapa. Penonton baru terlihat banyak ketika mencapai grand final, yang juga disiarkan TVRI secara langsung. PSIS mendatangkan Panser Biru, sementara Persib mendatangkan anak-anak sekolah dan suporter Persib Senior yang datang tanpa dipungut bayaran. Panser Biru diwajibkan membayar. Itulah tanda Persib memaksakan diri menjadi juara, sehingga segala cara ditempuh untuk menggapai ambisinya. Sekalipun ada siaran langsung dan pengurus PSSI, termasuk Sekjen PSSI Tri Goestoro hadir di tribune kehormatan, wasit Aris Munadar dari Jember mengabaikan etika fair play. Anak-anak Semarang masih tak terpengaruh, kendati sudah diteror dengan lima kartu kuning. Mereka masih saja tampil lugas, sehingga tidak salah kalau PSIS dinobatkan sebagai tim fair play. Di pinggir lapangan, para pembina PSIS mencak-mencak, karena timnya begitu sering dirugikan wasit. Misalnya saja soal tendangan bebas yang membuahkan gol pertama tuan rumah. Hanya gerakan body touch, tetapi oleh wasit bersertifikat FIFA itu ditanggapi lain. Tidak tahan menghadapi tekanan sedemikian hebat, pelatih kiper Budi Cipto melecehkan wasit. Dia memelorotkan celana sembari memamerkan pantatnya ke arah wasit. Itu luapan dari puncak kejengkelan. Tendangan penalti pada menit-menit akhir perpanjangan waktu 2 x7,5 mernit juga bukan karena sebuah pelanggaran. Terlihat pemain Persib sengaja menjatuhkan diri di kotak penalti. ''Kalau melihat cara wasit sudah seperti itu, tidak mungkin PSIS bisa juara. Makanya, saat dilakukan tendangan penalti, kiper (Wahyu Joko Purnomo, Red.), sudah saya pesan supaya tidak bereaksi,'' ujar Pelatih Cornelis Soetadi. (Mundaru Karya-22) |