
| Rabu, 22 Oktober 2003 | Olahraga |
Benturan Fisik Warnai Kongres Ke-33 PSSIJAKARTA-Benturan fisik yang mendekati adu jotos, mewarnai Kongres Ke-33 PSSI. Itu merupakan klimaks dari hujan interupsi yang dilontarkan para peserta. Kerusuhan, seperti yang sering terjadi di lapangan hijau, hampir saja disajikan sebagian peserta kongres saat mereka beradu argumentasi di ruangan berpendingan udara di Bali Room Hotel Indonesia, Selasa (21/10) petang kemarin. Perhelatan ini begitu demokratis, namun sekaligus terasa menyedihkan, sepanjang sejarah penyelenggaraan kongres PSSI. Inilah kongres terpanas, karena nyaris diwarnai benturan fisik dan adu jotos di antara peserta. Kerusuhan ini dipicu berlarut-larutnya penyelesaian materi yang dibahas, menyangkut usulan agar anggota baru yang sudah disahkan oleh sidang pleno bisa memperpoleh hak suara dalam pemilihan ketua umum. Usulan tersebut menjadi salah satu dari enam agenda keputusan pada Sidang Komisi B yang membidangi masalah organisasi. Sebagian besar peserta berpendapat usulan itu tak bisa direalisasikan, karena untuk itu harus dilakukan dulu amandemen terhadap Pasal 8 Anggaran Rumah Tangga PSSI. Pasal itu menyebutkan, calon anggota PSSI yang disahkan menjadi anggota biasa baru bisa memperoleh hak suara untuk memilih pada kongres berikutnya. Karena itu, jika usulan itu disetujui, berarti harus lebih dulu dilakukan amandemen dari AD/ART tersebut. Persoalan ini sebenarnya tidak akan berlarut-larut seandainya Lili Hambali (Purwakarta) yang menjadi juru bicara dari pimpinan sidang pleno melaksanakan tugasnya secara tegas. Ironisnya, Lili bahkan sempat mengetukkan palu untuk menyetujui usulan pemberian hak suara bagi anggota baru tersebut. Keputusan itu tentu saja membuat gembira wakil-wakil dari perserikatan atau klub yang baru disyahkan sebagai anggota biasa PSSI itu, dari semula hanya sebagai calon anggota. Mereka, yang seluruhnya berjumlah 64 suara, kemudian meminta agar pimpinan sidang melakukan voting untuk menyepakati amandemen AD/ART tersebut. Ketika sebagian peserta hampir saja terlibat dalam baku pukul, Ketua Umum PSSI Agum Gumelar seperti tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Dia duduk tepekur dengan wajah terlihat sendu di barisan bangku terdepan. Agum baru berdiri ketika seorang peserta secara tiba-tiba mengusulkan agar dia berkenan berbicara di podium untuk menenangkan keadaan. Bersikap Dewasa Agum kemudian meminta agar seluruh peserta mampu bersikap dewasa dan menghargai beda pendapat, sebagaimana hakikat dari sebuah organisasi. Karena itu, ia mengimbau kepada seluruh peserta untuk menghormati apa pun keputusan yang dibuat oleh pimpinan sidang. ''Walau keputusan itu sudah pasti tidak akan memuaskan semua pihak,'' kata Agum, yang sejak awal menghadiri sidang pleno di hari ketiga kongres. Dia memahami aturan organisasi dengan tidak membuat keputusan tertentu untuk menengahi kerusuhan yang terjadi. Imbauan Agum yang dilontarkan secara tegas itu cukup untuk meredakan suasana di akhir persidangan pleno yang sudah menyerupai arena pasar malam. Mayoritas peserta kemudian tak lagi mempersoalkan perihal usulan itu ketika Sugeng Suparlan yang ganti menjadi pimpinan sidang, memutuskan usulan mengenai pemberian hak suara untuk ke-64 anggota biasa baru tersebut tak disetujui. (wgm,A4,C10-22) |