
| Rabu, 22 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Segudang Masalah dalam Tumpukan SampahBAGI sebagian orang, sampah bukanlah masalah yang harus dihadapi dengan serius. Namun, jika sampah mulai menggunung dan tak terkelola dengan baik, berbagai masalah bisa muncul. Selama Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri, tingkat konsumsi masyarakat biasanya meningkat. Tumpukan sampah setiap hari pun akan bertambah. Penumpukan sampah di Kabupaten Pekalongan saat ini boleh jadi belum mengusik masyarakat. Namun, berdasarkan data, penumpukan sampah bisa memunculkan masalah. Data di Kantor Kebersihan dan Pertamanan (KKP) menunjukkan, setiap hari tidak kurang dari 75% sampah tak terangkut ke TPA. Dari rata-rata produksi sampah 206 m3/hari, yang terangkut hanya 156 m3. Padahal, pasokan sampah selama Ramadhan dan Idul Fitri diperkirakan meningkat tajam. Kepala KKP Sutoyo Siddiq SSos menuturkan, mengelola sampah bukanlah hal yang mudah. Ada segudang masalah rumit yang menyebabkan tumpukan sampah tak mudah dikelola. Selama ini banyak orang belum memahami bahwa mengelola sampah itu tidak mudah. ''Karena itu, sering kita lihat orang seenaknya membuang sampah. Padahal, mengumpulkan sampah-sampah tersebut bukanlah hal yang mudah,'' paparnya. Petugas kebersihan, kata Sutoyo, setiap hari harus bekerja keras mengumpulkan sampah yang tersebar di 43 kontainer di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan. Dari 43 kontainer itu, sampah kemudian ditampung di TPA Linggo Asri, Kecamatan Kajen. Kendaraan pengangkut yang terbatas dan jarak TPA yang cukup jauh menjadi salah satu penyebab tak semua sampah bisa terangkut. Produksi sampah yang sebanyak sekarang, idealnya membutuhkan 20 truk sampah. Padahal, saat ini KKP hanya memiliki sembilan truk pengangkut sampah, baik jenis amrol maupun manual. Adapun TPA yang ada sekarang jauh dari lokasi-lokasi yang selama ini menjadi pusat penumpukan sampah, seperti Wiradesa dan Kedungwuni. Karena itu, penambahan TPA kini tengah dipikirkan oleh KKP. Beberapa lokasi sudah disurvei untuk dijadikan TPA alternatif setelah Linggo Asri. Dari beberapa tempat yang disurvei, ada tiga lokasi yang dinilai cukup strategis. Yaitu, di Desa Jeruksari, Tirto, seluas 20 ha, Tambakroto, Kajen (5 ha), dan Boyoteluk, Siwalan (2 ha). Namun, pembuatan TPA alternatif tidak otomatis menjamin sampah bisa terkelola dengan baik. Sebab, ketika sampah di TPA sudah menggunung, yang harus dipikirkan kemudian adalah cara mengolahnya. Jika luas areal memungkinkan, proses pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan sistem buka tutup. Yaitu, menjadikan TPA berfungsi ganda, sebagai tempat pembuangan sekaligus penimbunan. Jika salah satu tempat penuh, sampah bisa ditimbun dengan tanah. Beberapa tahun kemudian sampah yang telah terurai di dalam tanah bisa digunakan untuk menimbun tumpukan sampah di sebelahnya, begitu terus bergantian. Namun, itu akan menjadi masalah jika lokasi TPA tidak memunginkan untuk mengurai sampah. Misalnya, TPA Linggo Asri yang dipenuhi tebing dan bebatuan. Jasa Pemulung Di TPI Linggo Asri, kata dia, sangat tidak memungkinkan untuk mengurai sampah. Karena itu, peran dan jasa para pemulung sangat vital untuk mengelola sampah di sana. ''Selama ini penduduk sekitar banyak yang menjadi pendukung. Merekalah yang membantu mengelola sampah,'' tandasnya. Namun, yang paling memprihatinkan adalah kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan. Selain membuang sampah sembarangan, jarang ada masyarakat yang mau memilah sampahnya sebelum dibuang. ''Padahal, sampah yang dipilah sebelum dibuang akan sangat membantu petugas kebersihan'' ujarnya. Problem sampah di Kota Santri, lanjut dia, hanya bisa ditangani jika seluruh masyarakat ikut membantu menjaga kebersihan dan membuang sampah di tempatnya. Sebab, masalah sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan, melainkan juga semua pihak. Ketika musim hujan datang dan tumpukan sampah tak terkelola dengan baik, berbagai bibit penyakit akan mudah menyerang masyarakat. Selain itu, bahaya banjir juga mengancam sewaktu-waktu. Karena itu, kesadaran masyarakat membuang sampah di tempatnya sangat penting. Sebab, selain bisa mengantisipasi munculnya berbagai penyakit, juga bisa memperindah Kota Santri. (Muhammad Burhan-49e) |