logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 22 Oktober 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Peternak Curigai Virus Flu Burung

PURWOKERTO- Virus yang menyerang ayam petelur di daerah eks Karesidenan Banyumas, sampai sekarang belum bisa diidentifikasi. Virus itu masih terus mengganas, dan ratusan ekor ayam petelur tiap hari mati di dalam kandang.

Peternak ketakutan, karena sampai sekarang belum ditemukan obat yang dapat mencegah kematian ayam itu. ''Kami tidak tahu, itu virus jenis apa. Karena menyerang ayam, jangan-jangan virus flu burung,'' duga seorang peternak, kemarin.

Ayam petelur yang terserang virus itu, sebelum mati terlebih dulu mengeluarkan lendir dari mulut. Ayam itu juga mengeluarkan suara "grog, grog, grog ...", sepertinya ada lendir di tenggorokan. Ciri awal ayam yang terkena virus, jengger atau mahkota berwarna biru kemerahan, jengger lemas.

Secara terpisah, Prof drh Sutrisno, dosen Fakultas Peternakan Unsoed, menjelaskan, untuk menentukan apakah virus itu termasuk virus flu atau bukan perlu penelitian. ''Dinas Peternakan harus segera meneliti penyebab kematian ayam itu."

Bagaimana mencegah penyebaran virus? ''Pisahkan ayam yang masih sehat dari ayam yang sakit atau yang sudah mati. Tujuannya, agar ayam yang sehat tidak tertular,'' ujarnya. Bangkai ayam yang sudah mati tidak boleh dikonsumsi. ''Sebaiknya dibakar atau dikubur,'' tandasnya.

Virus dapat menyerang dalam tempo sangat cepat. Penularan dapat terjadi karena kontak langsung, melalui udara, pakan, saat pemberian pakan. Virus bersifat menular. ''Kalau sudah banyak yang terkena, Dinas Peternakan harus cepat mengatasi.''

Peternak Bingung

Rektor Unsoed Prof Drs Rubiyanto Misman ketika dihubungi mengatakan, sudah menugasi tim peneliti Fakultas Peternakan untuk meneliti virus yang menyerang ayam petelur. ''Jika tidak segera diatasi, akan memengaruhi harga telur di pasaran. Sebentar lagi masuk bulan Puasa dan Idul Fitri."

Peternak ayam dari Sumbang, Lemi, mengungkapkan, dari 30.000 ekor ayam petelur miliknya yang sudah mati adalah 2.600 ekor. ''Tiap hari terus bertambah, saya jadi bingung ini,'' ucapnya.

Peternak ini terpaksa menjual ayam petelur yang masih sehat dengan harga murah. Ada yang laku Rp 7.000/ekor. Biasanya dijual Rp 50.000/ekor. Sejak ada serangan virus, Lemi telah menderita kerugian Rp 250 juta.

Produksi telur di peternakannya turun drastis, dan itu memengaruhi harga jual di pasar. Jika semula peternak menjual Rp 5.500/kilogram, kini dijual Rp 7.500/kilogram. Harga di pasaran Rp 8.200/kilogram.

Ayam petelur milik Lemi yang sudah mati langsung dikubur di pekarangan depan rumah. Dia kesulitan membuang bangkai ayam, karena jumlahnya banyak. Kalau dibakar juga bisa menimbulkan polusi dan khawatir diprotes tetangganya.(in-20j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA