
| Rabu, 22 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Muria |
Minyak Tanah Langka, Ibu-ibu Rumah Tangga Kebingungan
REMBANG -Beberapa hari terakhir minyak tanah makin langka di perkampungan nelayan dan desa-desa lain di Rembang. Tak ayal, para ibu rumah tangga, terutama yang mengandalkan kompor minyak untuk memasak, kebingungan. Beberapa pengecer mengatakan, tanda-tanda akan terjadi kelangkaan minyak tanah sudah terasa sejak Agustus 2003. Pada saat itu mereka sering kehabisan minyak tanah dan kesulitan kulakan. Sebab, agen sering terlambat mengirim minyak tanah. "Bila pesan hari ini, tiga-empat hari lagi baru dikirim. Tidak lancar seperti ketika normal," kata Sutrisno, pengecer di Desa Gegunung Kulon, Kecamatan Kota Rembang. Puncaknya minggu terakhir ini minyak tanah seperti menghilang dari pasaran. Banyak pengecer kehabisan minyak tanah. Sebelum mendapat kiriman dari agen, Sutrisno mencari minyak tanah ke pengecer lain. Dengan maksud, tetap bisa berjualan demi menjaga hubungan dengan pelanggan. Namun upaya itu sering tak membuahkan hasil, karena pengecer lain mengalami hal sama. "Saya pernah mencari minyak tanah ke pasar-pasar, tetapi nihil. Semua pedagang yang saya datangi mengatakan kehabisan minyak tanah juga," katanya. Pengiritan Pengecer lain, seperti Mulyati dan Sulasih di Desa Gegunung Kulon, juga menyatakan kesulitan mendapatkan minyak tanah. Mereka mengakui sudah hampir seminggu tak menjual minyak tanah. Kelangkaan minyak tanah juga terjadi di desa-desa lain. Banyak pengecer menempelkan tulisan "Minyak Tanah Habis" di tempat usaha mereka. Mereka tak akan melepas pengumuman itu sebelum mendapat jatah dari agen. Kenyataan itu sangat meresahkan nelayan tradisional. Karena, sejak harga solar naik mereka mengganti bahan bakar untuk mesin kapal dengan minyak tanah. Itu terpaksa mereka lakukan untuk menghemat. Sebab, ikan tangkapan sering tak seimbang dengan perbekalan melaut. Beberapa nelayan mengatakan sering pusing karena kesulitan mencari minyak tanah. Untuk kembali lagi ke bakar solar jelas sangat berat, karena cukup mahal. Karena itulah mereka tidak melaut bila tidak mendapatkan minyak tanah. Meski banyak desa mengalami kelangkaan minyak tanah, di jalur pantura masih banyak pedagang minyak tanah memasang tulisan "Jual Irex". Namun mereka tak melayani pembelian eceran, kecuali dengan jerigen berisi 20-25 l. Lebih banyak pedagang "irex" melayani sopir truk. Beberapa warga menduga kelangkaan minyak tanah akibat ulah pedagang besar yang mengutamakan pemberian jatah ke para pedagang "irex". Sebab, banyak pengecer di desa-desa kehabisan minyak tanah, namun para pedagang "irex" masih bisa mendapatkan minyak tanah. Berdasar pantauan Suara Merdeka, harga minyak tanah di warung-warung sedikit naik, yakni Rp 1.100-Rp1.200/l. Adapun di kios "irex" terpasang tulisan harga minyak tanah Rp 900/l. Namun beberapa warga menyatakan tak tertarik membeli minyak tanah di kios "irex". Sebab, kata mereka, takaran sering kurang dari ukuran sebenarnya. (jl-20g) |