logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 22 Oktober 2003 Budaya  
Line

Senantiasa Rindu Kota Lama

HARI-HARI pelukis Jimmy Lauy, tak ubahnya sebuah lorong batin. Lorong itu, sering mengarah ke bangunan-bangunan kuno di Semarang. Berkait dengan kondisi itu, irama kehidupan seniman yang lekat dengan putra semata wayangnya -Agung Wijaya Lauy- itu pun ibarat lantunan melodi ayah dan anak yang membangkitkan kerinduan.

Setiap awal hari-harinya, adalah denyut napas yang menyeruak ke jantung kota Semarang. Suasana hati seperti itu, membuatnya menjadi pengelana rindu atas bangunan-bangunan kuno dan kota lama Semarang. Kelana itulah, yang hingga kini terus merajut harapan-harapannya.

Memang, ada kerinduan pada kota lama, setiap kali Jimmy mengayunkan langkah kakinya. Pada saat mengantar dan menjemput buah hatinya sekolah, misalnya, bangunan Lawang Sewu dan Tugu Muda selalu menjadi pintu masuk imajinasinya, sebelum menyusuri wajah tua kota Semarang. Kerinduannya yang kerap tak tertahankan itu, selalu menuntunnya dan berakhir dengan lahirnya sebuah karya.

"Rindu itu, selalu menghamparkan kenangan dan kenyataan suasana Semarang di masa lalu maupun sekarang. Selalu saja ada jejak menuju lorong-lorong wajah masa lalu, yang begitu kuat menggiring langkah saat-saat sekarang," ungkap Jimmy.

Hafal Guratan

Bagi Jimmy, wajah Semarang di masa lalu dan sekarang sudah seperti wajahnya sendiri. Dia begitu hafal lekuk, gurat, dan warna suasana kota tersebut; bahkan ketika mengekspresikan bagian dari kenangan wajah lama itu ke dalam kanvas lukisannya.

Buah kerinduannya pada wajah lama Semarang, telah melahirkan banyak lukisan nostalgik; di antaranya berjudul "Kampung Melayu", "Jembatan Berok", "Lawang Sewu", dan "Sudut Gereja Blenduk". Ia mengekspresikan kerinduan itu lewat sapuan pastel, yang mencuatkan jiwa dan warnanya yang khas, sekaligus berkarakter.

Pelukis kelahiran Jember, Jawa Timur itu berhasil mengungkapkan kerinduannya dalam objek naturalisme yang hidup dan objek yang berbeda. Misalnya saja, lukisan pastel berjudul "Kampung Melayu" yang menampilkan beberapa objek spesifik, sosok orang menyapu dan armada becak. Lukisan dengan sudut beda lainnya adalah "Jembatan Berok", yang saat itu sedang lengang, berisi keluarga muda dan balon.

Karya nostalgik Jimmy Lauy tersebut -bersama lukisannya yang lain-, sejak 20 hingga 27 Oktober 2003 mendatang dipamerkan di Hotel Sahid Jakarta.

Pelukis yang sangat produktif itu, tampaknya selalu saja tergelitik dan tergerak untuk menuangkan ide melukis dengan ragam media. Ia bisa melukis dengan apa saja: arang, cat air, cat minyak crayon, dan pastel. Dengan keragaman mediasinya itu, Lauy menjadi los (lepas, bebas) dan bisa konsisten menuangkan gejolak kreativitasnya ke dalam konsep naturalisme klasik, yang beda warna serta cermat dalam hal pembenaran cahayanya.

Jimmy termasuk pelukis beruntung. Ia mulai melukis sejak 1958 atas bimbingan sang ayah, Lauy, fotografer yang juga berhobi melukis dan sastra. Bakat seni warisan ayahnya itu, memberikan banyak pemahaman dan pengalaman seni melukis, yang kini menjadi obsesi tersendiri untuk dibukukan menjadi panduan melukis yang baik dan benar alias pener.

"Sebenarnya, bisa melukis itu merupakan keinginan tiap orang. Namun banyak terjadi, hal itu sebagai sesuatu yang mustahil digeluti sampai akhir hidup," ujarnya di tengah menunggui karya-karya yang dipamerkannya di Jakarta.

Lauy merasa bersyukur, karena bisa tetap melukis sampai hari ini. Bagi dia, melukis sudah menjadi kebutuhan hidup yang utuh. Sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Jadi, saya akan melukis terus sampai ajal menjemput," ungkap pelukis yang membuka galeri di Jl Puri Anjasmoro K 5 Nomor 22 Semarang itu.(C29-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA