logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 21 Oktober 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Nyadaran di Tegal Kangkung

Doa Arwah Jamak Jelang Bulan Puasa

ZIARAH kubur menjelang Ramadan lazim dilakukan masyarakat muslim di Jawa. Bahkan hal itu sudah menjadi tradisi. Sebagian masyarakat meyakini menjelang puasa adalah waktu yang paling baik untuk mendoakan orang mati agar mendapat ampunan dosa mereka.

Hari-hari menjelang Idul Fitri juga menjadi waktu pilihan selain menjelang puasa di bulan Syakban. Sebagian warga masyarakat lain, ada pula yang melakukannya di pemakaman para tokoh Islam yang dikeramatkan. Misalnya, di makam para Sunan atau wali aulia Allah (kekasih Allah-Red) seperti di makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, makam keluarga Raden (Sultan) Fatah atau makam-makam yang diyakini keramat lainnya.

Pada umumnya mereka meyakini nyadran akan membawa dampak kebaikan bagi orang yang berdoa dan orang yang sudah meninggal. Mereka melakukannya dengan cara membaca ayat-ayat suci Alquran dan kalimah thayyibah (kalimat yang baik-Red).

Kemunculan tradisi nyadran mengisyaratkan bahwa mereka percaya kepada kehidupan setelah mati. Di sanalah alam yang abadi, di mana semua orang akan menemuinya dan akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidup di dunia.

Ada upacara nyadran yang dilakukan sendiri oleh keluarga, tapi ada pula yang dilakukan secara berjamaah seperti di Tegal Kangkung, Tembalang. Hampir seluruh warga menghadiri acara tersebut di pemakaman setempat. Ratusan warga memenuhi halaman pemakaman yang memiliki luas sekitar 200 m2. Bahkan di antara mereka ada yang datang dari luar kota.

Sebelum mendoakan para arwah, warga yang dipimpin seorang kiai, membaca tahlil dan surat yasin. Mereka tampak khusyuk mengikuti. Setelah itu, salah seorang kiai lainnya memimpin membacakan doa untuk orang yang telah meninggal.

Warga yang duduk lesehan mengamini seraya kedua telapak tangan menengadah ke atas. Ceramah KH Munawir dari Gasem Pedurungan menjadi pamungkas acara tersebut.

Dia mengajak warga memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya sebelum datang mati. Bila tidak, dipastikan bakal merugi bila ajal terlebih dahulu menjemput.

Sembelih Hewan

Sesuai dengan kedatangan puasa, dia mengajak masyarakat Tegal Kangkung agar mengisi dengan kegiatan yang baik. Sebab, bulan mulia itu banyak memberikan berkah dan bisa membebaskan dari api neraka.

Ketua Panitia, H Nur Hasan didampingi Sekretaris Suparno menjelaskan, acara tersebut sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Kali pertama yang menggelar acara haul nyadran sekaligus untuk memperingati kedatangan bulan Ramadhan adalah Lurah Markam. Sayangnya, tak ada yang mengetahui persis kapan Lurah Markam memimpin desa itu.

''Sebelum warga melakukan nyadran, didahului berziarah ke makam keramat Kiai dan Nyai Nuriman. Mereka diyakini sebagai pendahulu yang telah ''jajah alas'' di sini (Kedung Mundu, Tegal Kangkung, dan sekitarnya-Red),'' katanya.

Semula setiap acara nyadran selalu diiringi dengan penyembilan hewan berkaki empat. Misalnya, kerbau, kambing atau sapi. Hingga akhirnya tradisi itu diyakini sebagian warga sebagai salah satu persyaratan yang wajib dilakukan.

''Itu yang mengkhawatirkan kami, tujuan ziarah menjadi musyrik (menyekutukan Allah-Red). Padahal ziarah merupakan sunnah (perbuatan baik yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW-Red) agar mengingat mati,'' katanya.

Kini, lanjutnya, acara itu dikemas sesuai dengan aturan yang telah ditentukan Nabi Muhammad. Diharapkan, ziarah di makam Tegal Kangung tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang bisa merusak iman.

Guna kelancaran acara tersebut, katanya, setiap warga dibebani mengirimkan makanan lima bungkus. Jenis makanan disesuaikan dengan kemampuan warga. Ini dimaksudkan untuk menjalin tali silaturahmi dan kebersamaan antarwarga. (Karyadi-83)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA