logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 17 Oktober 2003 Sala  
Line

KTM UMS ke Final Pimnas 2004

Bahasa Bisa Membunuh Karakter Orang

PABELAN - Penggunaan bahasa keliru yang bisa ditafsirkan negatif dalam suatu pemberitaan berpotensi menimbulkan pembunuhan karakter bagi seseorang. Pembunuhan karakter bisa terjadi jika pemberitaan menjurus ke fitnah. Karena itu, ketaatan pada kode etik sangat diperlukan, selain pembinaan tentang prinsip kesopansantunan berbahasa sebagai bekal penulisan.

Hal itu antara lain merupakan benang merah dari karya tulis tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang menjadi juara dalam lomba karya tulis mahasiswa Wilayah B (Jateng, Jabar, Jatim, dan Kalimantan), belum lama ini.

Dengan kemenangan tersebut, karya Atiqah Umi Khasanah, Heru Adi Prasetiya, dan Ragil Arie Setyowati itu akan menjadi finalis dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) 2004 yang digelar di STT Telkom. Karya tulis mereka berjudul Pembunuhan Karakter di Media Massa Cetak: Tanggapan Masyarakat, Dampak, dan Cara Meminimalisasinya.

''Pembunuhan karakter yang kami maksudkan adalah penggunaan simbol-simbol bahasa berupa pernyataan-pernyataan ataupun nama panggilan yang buruk, sehingga menyudutkan posisi orang lain. Pembunuhan karakter kami batasi pada empat media cetak dan internet, serta difokuskan pada tiga tokoh, yakni Amin Rais, Wiranto, dan Hamzah Haz,'' jelas Heru.

Dia juga mengatakan, pembunuhan karakter itu dapat dilakukan elite politik lain sebagai senjata untuk mengalahkan pesaingnya tanpa harus menggunakan kekuatan fisik. Pembunuhan karakter pun bisa terjadi pada media, karena persoalan bahasa.

''Kata-kata kabur dapat menimbulkan intrepretasi negatif. Ini juga bergantung pada nawaitu-nya, apakah kalimat-kalimat kabur tersebut memang disengaja atau tidak. Selain itu, ada pula penggunaan sumber-sumber yang tidak jelas. Misalnya ada suatu tuduhan yang dilontarkan sumber yang tidak disebutkan namanya. Untuk masalah tersebut, media perlu lebih spesifik. Siapa yang mengatakannya,'' jelas pembimbing mahasiswa Dra Atiqa Sabardila MHum.

Lebih lanjut Heru menjelaskan, karya tulis yang berdasarkan pada empat media cetak dan internet itu belum bisa sebagai sampel yang merepresentasikan pemberitaan di media cetak Indonesia. Dia juga melihat surat kabar yang menjaga kekredibilitasan dengan penulisan santun yang tidak menimbulkan pembunuhan karakter.(F11-17s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA