
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Olahraga |
Julio Lopez Bukan Target Utama
SEMARANG - Manajer Tim PSIS Semarang Yoyok Sukawi tak terlalu ngotot untuk mengejar Julio Lopez, kendati pemain asal Cile itu masih ingin membela Mahesa Jenar. ''Secara pribadi, Lopez sebetulnya masih mau main di PSIS, namun harga yang ditawarkan Nelson Sanchez (agen Lopez-Red) terlalu mahal,'' kata Yoyok, kemarin. PSIS sudah membuka penawaran kontrak Rp 175 juta dengan gaji per bulan Rp 17 juta, tetapi belum mendapat tanggapan. ''Menurut Sanchez, jumlah yang ditawarkan PSIS terlalu kecil. Sebab, Persija Jakarta dan PSM Makassar berani mengajukan tawaran kontrak Rp 500 juta,'' tambah Yoyok. Dengan angka sebesar itu, pihaknya berpikir dua kali untuk mempertahankan Lopez. Dia mempersilakan pemain dengan tendangan akurat itu ke Persija dan PSM, jika harganya tetap Rp 500 juta. Tingginya harga yang ditawarkan Sanchez, membuat manajemen PSIS tak lagi menjadikan Lopez sebagai target utama pemain asing yang dibidik. Yang dibutuhkan PSIS adalah pemain asing yang mempunyai loyalitas, fisik bagus dan kemauan keras pada saat bertanding. Pemain Afrika Putra Wali Kota Semarang ini menjelaskan, tak menutup kemungkinan timnya kembali memakai pemain asing dari Afrika. Itu didasarkan atas penampilan Diallo Andoulaye Djibril (Guinea) selama membela PSIS di Kompetisi Liga Indonesia (KLI) IX. Konstribusi Djibril untuk tim termasuk bagus. ''Meski usianya belum genap 20 tahun, tetapi permainannya sangat profesional. Djibril sudah kami ikat dengan kontrak untuk kompetisi mendatang antara Rp 175 dan Rp 200 juta dan gaji berkisar Rp 10 hingga Rp 15 juta.'' Rencananya, PSIS akan menentukan pemain asing pendamping Djbril pada bulan depan. Pada saat pemain lokal mulai berlatih, pihaknya sekalian mencoba pemain asing lain. Untuk pelatih, manajemen tim belum mengambil keputusan. ''Kami akan menentukan nama pelatih seusai Kongres PSSI.'' Tiga calon pelatih PSIS untuk menghadapi KLI X adalah Cornelis Soetadi, Benny Hartono dan Firmandoyo. Tentang usulan adanya direktur teknik, dia menganggap belum perlu. (H8-59) |