logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 16 Oktober 2003 Olahraga  
Line

Mengapa Pembinaan Puslat PSIS Diabaikan?

SEBAGAI orang yang pernah dipercaya menangani pembinaan Pusat Latihan (Puslat) PSIS Semarang, pada awalnya saya berkeyakinan akan mampu mengemban tugas ini dengan baik. Untuk itu, saya membuat program secara terperinci termasuk dana yang dibutuhkan.

Motivasi saya membina pusat latihan (puslat) sangat tinggi, karena puslat merupakan kumpulan pemain-pemain muda potensial. Dari mereka itulah diharapkan bisa dihasilkan pemain-pemain jadi yang akan diturunkan pada Kompetisi Liga Indonesia (KLI).

Namun, motivasi saya yang menggebu-gebu itu akhirnya kandas. Program yang saya susun sama sekali tak digubris pengurus. Soal dana juga begitu. Dana yang saya ajukan, Rp 100 juta, tak dianggap. Pak Wali Kota (Sukawi Sutarip-Red) hanya bilang, dana dicarikan dulu nanti diganti.

Akan tetapi saya tidak mau, karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, pengurus selalu menolak memberi ganti dana yang telah dikeluarkan. Mengapa pembinaan puslat diabaikan? Padahal, puslat merupakan basis pembinaan untuk mendukung PSIS Utama.

Selama ini, Pemkot Semarang hanya memikirkan dana bagi PSIS yang tampil di KLI. Untuk urusan lain, sepertinya dilupakan termasuk pembinaan puslat. Seperti pada KLI IX, secara keseluruhan Pemkot mengucurkan dana Rp 5,1 miliar, tapi uang itu hanya untuk membiayai PSIS Utama.

Untuk kepentingan lain, sama sekali tak dipikirkan. Ini jelas sangat keliru. Jika untuk puslat dikatakan tidak ada anggaran, giliran buat membiayai PSIS Utama, dana dengan mudah mengucur.

Wali Kota dan DPRD Kota harus tahu alokasi dana yang dikeluarkan. Perlu transparansi dalam pembagian dana, berapa untuk PSIS Utama, berapa buat puslat, dan berapa untuk tim-tim yunior.

Bila puslat tetap diabaikan seperti sekarang, masa depan sepakbola Kota ATLAS akan suram. Sebab, merekalah tulang punggung PSIS Utama pada masa mendatang. Memang butuh waktu. Namun, saya yakin dua sampai lima tahun ke depan, para pemain puslat sudah bisa diandalkan.

Kebanggaan Semu

Yang menonjol saat ini adalah kebanggaan semu. Pemkot dan manajemen tim PSIS Utama berusaha menggaet pemain-pemain berkualitas hanya untuk mengejar prestasi instan. Apa yang bisa dibanggakan, jika dapat merebut juara KLI tetapi dengan pemain-pemain profesional?

Masyarakat akan lebih bangga, bila PSIS berjaya dengan diperkuat pemain-pemain lokal. Kebanggaan semu sudah pernah terjadi, bukan sekadar isapan jempol.

Ketika PSIS juara KLI pada 1999 dengan menggunakan pemain-pemain pro, masyarakat bersuka cita. Namun apa yang terjadi pada KLI berikut. Gara-gara sebagian pemain pilarnya hengkang, Mahesa Jenar terpuruk dan degradasi ke Divisi I.

Saya juga heran, kenapa masih ada banjir bonus pada saat PSIS terbebas dari degradasi pada KLI musim lalu. Seharusnya kita malu, dengan dana Rp 5,1 miliar kok cuma lolos degradasi. Ingat, dana sebesar itu bukan dari kocek pribadi, namun duit rakyat.

Duit rakyat harus dipertanggungjawabkan secara transparan. Apalagi yang terjadi akhir-akhir ini, manajemen tim diserahkan ke putra Wali Kota dengan alasan agar mudah dalam memperoleh dana dari APBD.

Pada hemat saya, PSIS tak perlu mengeluarkan dana besar-besaran dari APBD Kota. Mahesa Jenar lebih baik cukup eksis saja di KLI. Tak perlu memburu gelar juara, tetapi menguras duit rakyat terlalu banyak. Ke depan, PSIS harus berpikir untuk berlaga di KLI dengan biaya semurah mungkin.

Bagaimana caranya? Salah satunya dengan memantapkan pembinaan puslat. Sayang, keberadaan puslat akhir-akhir ini dipandang sebelah mata.

Saya pun prihatin dengan ''digusurnya'' para pengurus senior dari manajemen tim PSIS Utama. Di KLI IX, tak ada pengurus ''tua'' yang dilibatkan. Ini jelas tak kondusif, karena saran dan pengalaman mereka sangat penting. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? (Ir H Mur Aris Sutoto MM, Ketua Puslat PSIS 2002-2003-59j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA