logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 16 Oktober 2003 Berita Utama  
Line

660 Ribu Ha Hutan Rusak Berat, Bencana Alam Mengancam

SURABAYA - Baik di musim kemarau maupun di musim hujan, bencana alam tetap menghantui sebagian besar wilayah di Jatim. Sebab, berdasar data yang ada, dari 1,3 juta hektare hutan di provinsi berpenduduk 35 juta jiwa ini, sekitar 660 ribu hektare di antaranya kini mengalami kerusakan berat.

Karena itu, LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jatim memprediksi, potensi terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di tahun ini di Jatim cukup besar, mengingat

besarnya kerusakan lingkungan. "Potensi terjadinya bencana alam, khususnya banjir bandang, masih cukup besar. Bahkan, mungkin lebih besar dibanding tahunlalu," kata Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Sardiyoko SIP di Surabaya, kemarin.

Ia menguraikan, hampir semua kabupaten/kota di Jatim berpotensi terkena

bencana alam. Sebab, kerusakan lingkungan, khususnya hutan juga merata di seluruh daerah.

Merujuk data Balai Penelitian dan Pengembangan Jatim, hingga bulan Juli 2003, dari

sekitar 1,3 juta hektare luas hutan di Jatim, sekitar 660 ribu hektare di antaranya kondisinya rusak berat.

"Ini kondisi yang sangat membahayakan dari perspektif lingkungan hidup," tambahnya.

Banjir

Dia mengemukakan, dari sekitar 660 ribu hektare lebih hutan yang rusak ekosistemnya tersebut, sekitar 160 hektare berada di kawasan hutan lindung. Sedang 500 ribu hektare sisanya berada di luar kawasan hutan lindung. "Ancaman bencana alam yang mungkin terjadi adalah banjir bandang dan tanah longsor," jelasnya.

Tanda-tanda ancaman bencana alam di Jatim, kata Sardiyoko, sudah terlihat sejak lama.

Menurutnya, sejak bulan Januari sampai Juli 2003, telah terjadi beberapa kali bencana alam. Misalnya, tanah longsor, banjir, dan angin puyuh di 14 daerah. Akibatnya, ratusan rumah rusak dan jatuhnya lima korban jiwa.

Bencana alam dalam tempo enam bulan tersebut antara lain terjadi di Jember, Banyuwangi, Malang, Mojokerto, Ponorogo, dan Gresik. "Itu belum termasuk kerugianakibat kekeringan tahun ini," katanya.

Sementara itu, Direktur LSM Peduli Indonesia Mojokerto, Syafruddin Ngulma Simeulue memperkirakan, bencana banjir dan tanah longsor masih akan mengancam

penduduk Jatim pada musim penghujan tahun ini. Penyebabnya, karena luasnya areal hutan yang kondisinya rusak berat.

"Selain itu, program reboisasi yang digalakkan PT Perhutani dan pemerintah beberapa waktu lalu belum terlihat hasilnya. Ke depan, yang harus diperhatikan adalah menyelamatkan sisa hutan yang ada sebagai kawasan penyangga dan memperbaiki hutan yang rusak," tuturnya. (G14-29)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA