logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 16 Oktober 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Rasa Khas Petai dan Daun Pisang di Nasi Goreng Bu Djaikem

MESKIPUN berjejer banyak pedagang makanan, namun warung yang terletak paling pojok di lokasi Alun-alun Ungaran itu tanpak paling ramai. Ya, kondisi seperti itu tidak mengherankan karena warung itu mempunyai ''legenda'' tersendiri bagi penggemar nasi goreng. Masalahnya, apa yang disediakan lain dari yang lainnya, yakni petai sebagai lauk tambahan.

Warung Bu Djaikem memang sangat terkenal, khususnya di daerah Ungaran. Meskipun yang mempunyai nama tersebut sudah meninggal, namun warung tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli. Selain itu, keunikan pelayanan karyawan Bu Djaikem juga tidak pernah ditemui di warung mana pun.

Misalnya, cara mereka memasak nasi goreng dengan menggunakan anglo, menambah kental rasa tradisionalnya. ''Nenek memakai peralatan tradisional itu sejak berjualan keliling sampai sekarang,'' kata Fajar, cucu dari pemilik warung itu. Untuk itu, dia tidak mau meninggalkan ciri khas yang ditinggalkan neneknya itu. Keunikan lain yang ada di warung nasi goreng itu, yakni diatas piring yang digunakan untuk menyediakan nasi goreng ada daun pisangnya. Menurut Fajar, hal itu untuk menjaga kebersihan dari makanan yang disediakannya. Selain itu, sebagai penarik perhatian bagi pengunjung yang datang ke tempatnya.

Dia mengakui, berkat nama besar neneknya itulah, dagangan yang dia kelolanya selalu habis setiap hari. Mulai buka pukul 16.00 dan tutup pukul 21.30. Dalam satu hari, warung itu mendapat keuntungan kurang lebih Rp 1juta.

Setiap akan berdagang, dia harus menyediakan 20 kg nasi, daging sapi 15 kg dan daging ayam 8 kg.

''Dalam menyediakan bahan baku tersebut kami tidak pernah kurang dan lebih, selalu disesuaikan dengan porsi yang sudah ada,'' ujar dia. Dengan porsi bahan baku tersebut sudah disesuaikan itu, seandainya sepi pun tidak akan rugi banyak.

Buka Cabang

Legenda warung nasi goreng Bu Djaikem memang tidak dapat dilupakan masyarakat Ungaran. Nama itu sudah ada sejak tahun 1970, saat itu masih pedagang keliling.

Untuk lebih meletarikan nama dan ciri khas dari warung itu, para penerus penjual nasi goreng itu telah membuka cabang di beberapa tempat di Ungaran, bahkan ada yang berada di Yogyakarta.

Fajar menjelaskan, cabang nasi goreng yang ada di Yogyakarta dikelola oleh bapaknya, Heru Suratno. Bapaknya pun dalam menyajikan dagangannya tidak jauh berbeda dengan resep dan kekhasan yang ada di Ungaran.

''Ciri khas dari leluhur kami tidak dapat dirubah, semuanya serba tradisional dan harganya pun disesuaikan dengan kantong pembeli, tidak mahal dan juga tidak terlalu murah,'' jelas fajar. Untuk satu porsi nasi goreng babat, ayam dan campur, mereka menjualnya dengan harga Rp 5.000. Sedangkan khusus babat dan ayam gongso, pembeli harus membayar Rp 6000.

Saat ini, Fajar telah mempunyai 7 karyawan yang membantunya mengelola usaha itu. Setiap karyawan mempunyai tugas masing-masing dan tidak pernah berebutan. Makanya tidak mengherankan seandainya ada pengunjung yang datang ke tempat itu, langsung dilayani dan cepat dalam penyajiannya. (Moch Achid Nugroho-73)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA