
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Ekonomi |
Arus Investasi Tak Terlalu BurukJakarta - Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjara-jakti menyatakan arus investasi di Indonesia tidak terlalu buruk, seperti yang dibayangkan selama ini. Menurutnya, data statistik yang dikeluarkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) belum mencerminkan seluruh investasi yang masuk ke Indonesia. "Harus diketahui statistik investasi PMA (penanaman modal asing) yang selama ini dikeluarkan BKPM hanya menyangkut lisensi direct investment (investasi langsung), tidak mencakup investasi portofolio dan yang lainnya," kata Djatun saat ditemui di Hotel Hilton, Jakarta, Rabu (15/10). Menurut dia, jika dilihat dari data neraca pembayaran (balance of payment) Bank Indonesia (BI), ternyata banyak investasi yang masuk (capital inflow). "Saya tidak mengatakan pesimis atau optimis. Tapi kalau dilihat dari balance of payment di BI, banyak sekali capital inflow. Jadi tidak sejelek yang dibayangkan," lanjut mantan dekan Fakultas Ekonomi UI tersebut. Sudah Membaik Djatun menambahkan, saat ini perekonomian Indonesia sudah membaik yang ditunjukkan dengan peningkatan konsumsi seperti sepeda motor, mobil, truk dan penggunaan peti kemas. Menyangkut data BKPM yang belum mencerminkan investasi yang masuk, menurut dia, saat ini BPKM tengah melakukan perbaikan data dimaksud. Pada bagian lain, Djatun mengungkapkan, pada tahun 2010 diperkirakan setiap keluarga di Indonesia hanya akan memiliki 2 orang anak. Berarti hanya menggantikan kedua orang tuanya saja. Sedangkan untuk tahun 2050, diperkirakan tidak ada lagi penambahan penduduk (zero growth), seiring keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Pada tahun tersebut, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 340 juta orang. Ditambahkan mantan duta besar RI untuk AS tersebut, pemerintah Indonesia sebagaimana komitmennya dalam Paris Club, akan terus mengupayakan adanya pengalihan utang (debt swap) untuk program-program kependudukan. Namun dia sendiri belum berani menyebutkan berapa jumlah debt swap yang akan diperoleh Indonesia untuk program kependudukan tersebut. Alasannya, karena masing-masing parlemen negara anggota Consultative Group on Indonesia (CGI) memiliki karakteristik yang berbeda-beda. "Tapi selama satu tahun ini kita bisa mencapai komitmen debt swap sebesar 100 juta dolar AS," ungkap Djatun.(dtc-82) |