
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Ekonomi |
Asumsi Minyak APBN 22 Dolar per BarelJAKARTA - Pemerintah dan Panja Anggaran DPR sepakat menetapkan asumsi harga minyak untuk RABPN 2004, 22 per barel, atau lebih tinggi dari yang diinginkan pemerintah, 21 dolar per barel. Hal itu didasarkan pada perkiraan harga minyak dunia 2004 yang turun dengan masuknya minyak Irak dan Venezuela, meski harga minyak dunia dewasa ini cukup tinggi, antara 28-30 dolar per barel. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, di sela rapat kerja dengan Panja Anggaran di Gedung DPR Senayan, Kamis (15/10) menjelaskan, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan faktor-faktor fundamental dan nonfundamental sepanjang 2004. Ia mencontohkan, Rusia akan menaikkan produksi minyaknya dari 7,7 juta barel per hari menjadi 8,4 juta barel per hari. Sementara itu Irak akan menggenjot produksi minyaknya menjadi 3 juta barel per hari. Belum lagi Venezuela yang kembali akan berproduksi di tahun 2004. ''Kita memperkirakan suplai minyak di pasaran dunia akan bertambah sebesar 1,5 juta barel per hari, sementara pertumbuhan kebutuhan minyak dunia 1,2 juta barel per hari, sehingga ada kelebihan pasokan minyak 0,3 juta barel per hari,'' kata Purnomo. Akan Turun Adanya oversupply itu, kemungkinan besar harga minyak mentah dunia yang saat ini sekitar 30-an dolar per barel, akan turun. Karena itu pihaknya setuju APBN 2004 disusun dengan asumsi harga minyak dunia 22 dolar per barel, atau lebih rendah dari yang diusulkan DPR, 23 dolar per barel. Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Iin Arifin mengungkapkan, untuk APBN 2004, pemerintah mengajukan subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) Rp 18 triliun. Namun, angka tersebut masih disusun dengan asumsi harga minyak 23 dolar per barel. ''Dengan asumsi harga minyak mentah 23 dolar per barel maka dari hasil perhitungan, subsidi yang akan disediakan pemerintah untuk BBM di tahun 2004 akan sebesar Rp 18 triliun,'' paparnya. Namun, penetapan perhitungan besarnya subsidi tersebut masih akan dibahas lebih lanjut dengan Panja RAPBN 2004. Iin mengakui, jika asumsi harga minyak yang digunakan 23 dolar, sebenarnya terlalu tinggi. Sebab di tahun 2004, kemungkinan produksi dari Rusia akan meningkat dan Irak juga akan kembali memproduksi sekitar 3 juta barrel minyak per hari. ''Indonesia Crude Petroleum (ICP) memprediksi, harga minyak mentah pada tahun 2004 berkisar 24 dolar per barel. Sementara itu Malaysia hanya mengasumsikan harga minyak mentah rata-rata tahun 2004, 22 dolar AS per barel. Adapun Rusia, 18 dolar per barel, Exxon Mobil 20 dolar per barel, dan Algeria 22 dolar AS per barel,'' jelasnya. (A20-82n) |