
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Ekonomi |
Ibarat Kolam Kecil Dimasuki Kaki GajahDALAM satu bulan indeks IHSG kembali beranjak naik dan saat ini bertengger di level 600-an. Pasar modal rupanya cukup sakti menghadapi gejolak situasi dalam negeri, setelah aksi peledakan bom di Hotel JW Marriott pada 5 Agustus lalu. Selain itu, rupiah juga sangat sakti dan kembali menguat ke posisi Rp 8.400 per dolar AS. Lalu bagaimana sebenarnya prospek pasar modal akhir tahun ini dan tahun depan? berikut perbincangan Suara Merdeka dengan pengamat pasar modal Lin Che Wei sesaat sebelum menjadi pembicara dalam ''Niaga Business Gathering'' yang diselenggarakan Bank Niaga Semarang di Hotel Graha Santika, Selasa malam lalu.
Bagaimana kondisi pasar modal di Indonesia saat ini? Pasar modal kita masih menjadi pasar yang sangat kecil. Kalau saya boleh mengilustrasikan, pasar modal kita ibarat kolam kecil dan kemudian dimasuki kaki gajah. Artinya, kalau kaki gajah masuk atau pemodal besar masuk, semuanya naik, sebaliknya kalau keluar, indeks akan anjlok tajam. Jadi, pasar modal di Indonesia belum bisa disebut sebagai indikator utama bagi perekonomian Indonesia. Meski demikian, jika dilihat pasar modal kita sebenarnya sudah cukup dewasa menghadapi teror bom dan gejolak politik, serta keamanan di Indonesia. Investor lebih menaruh perhatiannya kepada kemajuan-kemajuan di bidang makro dan mikroekonomi yang saat ini memang sudah mulai terlihat pulih. Membaiknya kondisi pasar modal dalam beberapa bulan terakhir, kira-kira apa faktor utamanya? Secara umum, faktor positif yang sedang melanda pasar modal dunia juga masuk ke BEJ ditandai dengan kembalinya dana-dana fund manager ke pasar emerging market. Kenyataan ini telah banyak membantu perkembangan di pasar modal maupun pasar valas, yang terbukti dari membaiknya IHSG dan menguatnya rupiah. Para pelaku pasar sendiri tampaknya juga sudah ''cuek'' dengan kondisi di luar. Bagaimana pendapat Anda? Pasar modal tidak lepas dari makro dan mikro ekonomi, politik, dan keamanan. Psikologis pelaku pasar juga sudah semakin kebal oleh berbagai gejolak yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri. Sementara itu bank sentral kita saat ini mulai jeli melihat permainan para spekulan valuta asing. Bank sentral mulai mengeluarkan peraturan yang memperketat perputaran uang untuk meminimalisir apa yang disebut money laundering yang bakal terjadi di Indonesia. Namun, jika pasar uang dan pasar modal kita masih dikendalikan oleh aliran dana asing, tampaknya pasar kita masih rentan dengan gejolak. Seharusnya investor lokal seperti dana pensiun, reksadana, dan asuransi menjadi motor penggerak pasar modal. Untuk mencapai target investor lebih besar, ada baiknya perlindungan hukum kepada investor harus ditegakkan. Pandangan Anda soal moral hazard pelaku pasar modal? Saya tegaskan, moral hazard pelaku pasar modal kita masih sangat buruk sekali. Karena mereka sifatnya masih belum menganggap investor sebagai mitra. Melainkan tempat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Banyak cara yang dilakukan untuk itu ,termasuk memanipulasi dan berbagai hal lain yang sangat tidak menguntungkan bagi investor. Apakah hal tersebut dilakukan seluruh pelaku pasar modal? Tidak, kita tidak memukul rata semuanya melakukan tindakan seperti itu. Namun, sebagian besar tanggung jawab sosialnya rata-rata masih sangat rendah. Pokoknya, di pasar modal kita masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan untuk mencapai pasar modal yang sehat. Bagaimana dengan perlindungan terhadap investor? Saya melihat perlindungan terhadap investor masih sangat kurang sekali. Begitu banyak perusahaan, atau hampir 30% yang bangkrut. Contoh kebobrokan lain adalah ketika melakukan IPO (Penawaran Saham Perdana) mematok harga yang tinggi. Tetapi setelah IPO berhasil malah banyak yang ingin keluar supaya mereka bisa membeli dengan murah, tentu saja ujung-ujungnya ingin meraih keuntungan. Apa sebenarnya pokok dasar yang menjadi penyebab terjadinya masalah tersebut? Belum diterapkannya secara utuh Good Corporate Government di perusahaan yang listing di bursa menjadi salah satu penyebab. Apalagi peraturan yang ada saat ini tidak tegas. Pelanggaran tetap saja berlangsung, dan pada akhirnya investor atau masyarakat yang akan mengalami kerugian. Nah, kalau kondisi demikian terus berlangsung bagaimana pasar modal kita bisa menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi? Jadi sekali lagi, pasar modal kita masih seperti kolam kecil yang hanya bisa bergerak bangkit kalau ada kaki gajah yang masuk.(Arie Widiarto-82) |