logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 16 Oktober 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Menanti Kedatangan Bledhek untuk Tanam Padi

MEMASUKI musim hujan, di wilayah Kabupaten Banyumas dan sekitarnya, hampir setiap hari air hujan mengguyur lahan pertanian yang retak-retak akibat kekeringan. Turunnya hujan berarti rezeki bagi petani, karena ada harapan sawahnya bisa ditanami padi.

Namun bagi sebagian petani di Kabupaten Banyumas, hujan turun beberapa hari terakhir ini ternyata belum membuat mereka serta merta dapat menggarap sawahnya untuk ditanami padi.

Hujan yang turun, meski sudah membasahi sebagian sawah, bagi sebagian petani belum dianggap cukup untuk melakukan penanaman.

''Kalau bledhek (petir) belum kedengaran, itu pertanda belum saatnya sawah ditanami padi. Petani baru mulai menanam bila sudah ada bledhek. Jika sudah ada bledhek, berarti hujan yang turun dari langit sudah mencukupi untuk mengairi sawah. Petani masih menunggu bledhek untuk menanam padi,'' tutur Miarji (60), petani dari Desa Karangnanas, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas yang ditemui ketika sedang memperbaiki pematang saluran air di sawahnya.

Dia mengakui hujan yang sudah turun beberapa hari terakhir ini memang telah mendatangkan air. Namun, air yang mengalir di selokan tidak bisa dipakai untuk mengairi sawah hingga ke hilir. Hanya lahan yang berada di hulu saja yang bisa terpenuhi airnya.

Dia mengemukakan, pada awal hujan turun ini para petani sebagian besar baru memperbaiki saluran air di sawahnya dan membenahi pematang sawah. Yang airnya sudah cukup, petani mulai membajak sawah dan menebar bibit di pesemaian.

Memperbaiki Saluran

Hal yang sama juga diakui Slamet, petani di Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Hujan yang sudah turun ini baru bisa dimanfaatkan petani di hulu. Petani yang ada di bawah, paling baru memperbaiki saluran air dan menabur benih di pesemaian. Pesemaian paling tidak butuh waktu lebih kurang 40 hari untuk bisa ditanam, ujarnya.

Dia memakai hitungan mangsa. Saat ini masih mangsa papat, sehingga kebutuhan airnya belum cukup untuk mengairi sawah. ''Petani baru menanam padinya pada mangsa lima, akhir Oktober atau awal November. Pada bulan-bulan itu hujan sudah sering turun diiringi dengan petir,'' tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas Ir Djoko Wikanto MM mengungkapkan, memasuki musim hujan ini Bupati telah mengeluarkan surat edaran kepada para camat tentang pelaksanaan musim tanam (MT) Oktober - Maret. Namun, pada awal musim hujan ini sebagian petani belum mulai menanam padi.

Perhitungan petani saat ini, air belum mencukupi. Puncaknya. para petani menanam padi pada November dan Desember saat hujan sudah sering turun.

''Petani menanam padi memakai patokan, bila bledhek sudah terdengar mengiringi turunnya hujan. Meski hujan sudah turun, karena belum ada petir, mereka belum tanam. Paling baru memperbaiki saluran,'' tuturnya.

Dia mengungkapkan, petani yang masih menunggu kedatang bunyi bledhek untuk memulai tanam, terutama sekali petani yang mengandalkan kebutuhan airnya dari irigasi dan di daerah hilir, seperti di Kecamatan Sumpiuh, Kemranjen, Tambak, Banyumas, Sokaraja.

Petani yang ada di bawah lereng Gunung Slamet, seperti di Kecamatan Pekuncen, Kedungbanteng, Karanglewas, Sumbang, Baturraden, Ajibarang, Cilongok yang airnya mengalir sepanjang tahun, tidak menjadi persoalan.

Untuk MT Oktober-Maret 2003/2004 ini, areal sawah di Kabupaten Banyumas lebih kurang 33.000 hektare yang bisa ditanami padi. Berdasarkan pengalaman MT Oktober-Maret tahun lalu, biasanya puncak tanam padi pada musim tanam ini akan terjadi pada November dan Desember. Pada dua bulan itu, lahan yang ditanami padi 19.000-20.000 hektare.

''Jika melihat perhitungan petani yang memakai patokan bunyi petir dan hitungan mangsa, MT kali ini perkiraannya pada November dan Desember menjadi puncak petani menanam padinya,'' jelasnya. (Sigit Oedianto-20j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA