
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Di Balik Kecelakaan di Subang Jabar
Naik Travel agar Bisa Sampai AlamatBANJARNEGARA- Bendera putih yang diikat pada sebuah drum masih terpancang di samping barat rumah keluarga almarhum Ali Sudarmojo Mulikan (53) di Dusun Krajan, Desa Argasoka, Kecamatan Kota, meski tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa mulai berkurang. Di ruang tamu rumah semipermanen yang didominasi warna putih, berjejer rapi beberapa kursi plastik untuk tamu. Sementara itu, di atas meja juga masih tersedia makanan kecil dan permen untuk suguhan para peserta takziah. ''Suasana itu masih kami pertahankan sambil menunggu selamatan tujuh hari meninggalnya almarhum/almarhumah dan kedua anaknya,'' tutur Ny Mulikah (45). Ditemui di rumah duka kemarin, adik almarhum Ali Sudarmojo Mulikan yang tinggal di barat rumah duka mengungkapkan, kakak kandung, kakak ipar, dan dua kemenakannya sengaja naik travel ke Jakarta dengan pertimbangan langsung sampai alamat. ''Mas Mulikan dua kali ke Jakarta, sedangkan istri dan kedua anaknya baru sekali. Agar tak kesulitan mencari tempat tinggal Muhendar (anak Mulikan), (mereka) menggunakan travel.'' Sebelum musibah, wanita itu mengaku tidak menerima firasat apa pun. Namun sehari sebelum berangkat, almarhumah Ny Jumini (51) berpesan, agar dia memberitahukan pada pelanggan bahwa mereka tak bisa memasok makan kecil karena empat hari ke Jakarta. Libur Empat Hari Mulikah menuturkan, pekerjaan suami istri yang tewas akibat kecelakan lalu lintas di Subang Jawa Barat, Minggu (12/10) dini hari itu, membuat penganan nagasari. Makanan kecil dari tepung beras isi pisang biasanya disetor ke warung/toko termasuk toko P&D Topaz di Jalan Vetaran. ''Mas Mulikan yang menumbuk beras itu menjadi tepung dan memasaknya menjadi nagasari. Mbak Jumini yang menyetorkan ke toko/warung.'' Setelah semua penghuni rumah itu meninggal, dia tidak tahu siapa yang akan menempati rumah itu. Sebab Muhendar, satunya-satunya anak suami istri yang masih hidup, berencana kembali Jakarta. ''Muhendar kemungkinan kembali ke Jakarta, tapi menunggu setelah situasinya memungkinkan,'' tutur Ny Mulikah. (A9-20j) |