
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
''Penataan Sigandu-Ujungnegoro Jangan Comot Sani-sini''DALAM penataan kawasan objek wisata bahari Sigandu-Ujungnegoro, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Masterplan yang akan dihasilkan dari studi yang kini sedang dilakukan Pemerintah Kabupaten Batang seharusnya merupakan hasil penyerapan dari karakter, potensi lingkungan, serta sosial budaya masyarakat di tiga desa wilayah kawasan. ''Jadi, tidak merupakan suatu kegiatan comot sana-comot sini daerah lain misalnya Bunaken, Sulawesi Utara, yang baru-baru ini dikunjungi rombongan Pemkab dan Anggota DPRD,'' ujar Nuhul Bihar, Koordinator Forum Lesehan Rakyat Radio Abirawa FM. Pertimbangannya, kalau mencomot dari daerah lain, bisa berakibat desain kawasan yang dihasilkan tidak memeroleh daya dukung dari masyarakat di tiga desa yang masuk dalam kawasan wisata bahari yaitu Desa Klidanglor (Batang), Depok dan Ujungnegoro (Tulis). Apalagi tidak sesuai dengan potensi lingkungan dan sosial budaya masyarakat setempat. Karena itu, desainnya harus benar-benar mencipatkan daya yang membangkitkan partisipasi masyarakat setempat. Kawasan wisata yang akan dibangun sepanjang 5 km menyisir dari pantai Sigandu-Ujungnegoro itu harus bisa dijual dan mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan objek wisata bahari lainnya di pantai utara Jawa Tengah, sehingga ikut mempunyai andil dalam menjual Kabupaten Batang kepada wisatawan. ''Agar menjadi daerah tujuan wisata yang kemedol, resepnya dalam membangun kawasan itu harus spesifik dan diorientasikan untuk menjadi objek wisata siang dan malam, sehingga selama 24 jam mendatangkan pendapatan untuk PAD.'' Bawa Manfaat Adanya kawasan wisata bahari itu bisa membawa manfaat bagi masyarakat di tiga desa tersebut, khususnya meningkatkan penghasilan nelayan kecil dan pedagang (bakul) ikan yang masih terkena dampak krisis ekonomi. ''Salah satu alternatifnya adalah memfasilitasi mereka sehingga dapat melakukan kegiatan ekonomi di objek wisata Sigandu-Ujungnegoro. Mungkin dengan bantuan modal atau pelatihan sehingga masyarakat bisa membuka simpul-simpul ekonomi baru,'' paparnya. Melihat sebagian masyarakat di tiga desa yang lebih suka buang hajat di pinggir kali, bahkan ada yang di pasir tepi pantai, dia menilai prospek wisata Sigandu-Ujungnegoro justru lebih tepat pada kegiatan malam hari. Sebab, kesan yang ditimbulkan oleh kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang masih belum berpola hidup sehat, akan tertutup oleh kondisi alam pada malam hari. (Arif Suryoto-20n) |