
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Muria |
Tidak Suka Jadi TKIREMBANG- Pengangguran di Rembang tahun ini diperkirakan 13 ribu orang. Mereka umumnya tidak mempunyai keahlian tertentu sehingga sulit bersaing dengan tenaga kerja dari daerah lain. Hal itu disebabkan oleh kualitas pendidikan yang rendah. Hal ini ditandai oleh banyaknya lulusan SD. "Mereka sulit maju karena faktor pendidikan. Apalagi kini latihan kerja banyak yang tidak diorientasikan pada kebutuhan pasar," kata Kepala Kantor Tenaga Kerja Kabupaten Rembang, Soewardjo SH. Kondisi tersebut akan segera diatasi. Saat ini Kantor Tenaga Kerja melakukan pelatihan-pelatihan kerja kepada masyarakat sehingga mereka siap menjadi tenaga kerja terampil. Sistem yang dilakukan jemput bola, yaitu mendatangi para calon tenaga kerja di kecamatan dan di desa. Untuk tahun 2003 ini, disediakan Rp 70 juta dari APBD II untuk menggelar pelatihan tenaga. Namun melihat manfaat yang sangat besar pelatihan itu, tahun 2004 mendatang dana pelatihan kerja ditingkatkan menjadi Rp 200 juta. "Pelatihan kerja akan terus digalakkan. Kami melakukan jemput bola sehingga kualitas tenaga kerja bia ditingkatkan," ujarnya. Menurut dia, tenaga kerja Rembang hanya mau bekerja ke luar kota di Pulau Jawa. Jika ditawari bekerja di luar Jawa atau luar negeri menjadi TKI, mereka tidak mau. Padahal, kantor tenaga kerja sudah berusaha menjadi fasilitator bagi masyarakat yang ingin menjadi TKI di luar negeri. Mereka juga diberi kemudahan pinjaman bank untuk biaya pemberangkatan. Namun kenyataannya, yang mendaftar hanya sedikit. "Mereka tidak mau menjadi TKI karena kemampuan ekonomi dan budaya keagamaan yang sudah sangat kuat. Jadi, sebagian besar para tenaga kerja tidak mau pergi jauh-jauh dari daerahnya," ungkapnya. (H13-49i) |