
| Kamis, 16 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Muria |
"Putri Duyung"bagai Danau KecilSEBUAH kolam ukuran 10 x 25 meter dikelilingi hamparan rumput dan tanaman hias yang menyejukkan. Warna airnya membiru, bagaikan danau kecil tawarkan pesona. Riciknya tak pernah berhenti mengalir, laksana ikut bercanda dengan anak-anak yang sedang belajar berenang di tempat tersebut. ''Ma, lepaskan bajuku. Adik ingin segera mandi,'' kata si bocah perempuan itu merengek kepada ibunya. ''Dik, kamu belum bisa renang. Nanti mandi bersama mama saja,'' jawab ibunya sambil meletakkan tas yang berisi pakaian dan handuk di meja bundar. Itulah pemandangan yang dijumpai Suara Merdeka, kemarin, ketika melihat perkembangan kolam renang yang baru dioperasikan empat bulan. Kolam renang yang diberi nama Putri Duyung tersebut, terletak di kawasan wisata Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK), tepatnya di Desa Tasikagung, Kecamatan Kota Rembang. Kolam renang itu, dibangun dengan dana APBD II Rp 2,5 miliar. Proses pembangunannya dipercayakan kepada PT Panca Duta, dan diresmikan Bupati H Hendarsono, 6 Juli 2003. Pada awalnya, ketika Pemkab meluncurkan gagasan membangun kolam renang itu, banyak orang yang tidak setuju. Bahkan ada di antara anggota Dewan yang menolak, karena dianggap pemborosan. Namun, Hendarsono sebagai pucuk pimpinan daerah tak pernah putus asa. Dia memiliki alasan kuat untuk mengegolkan gagasannya, yaitu demi pengembangan Taman Rekreasi Pantai Kartini yang dimasukkan dalam satu paket dengan proyek kawasan bahari terpadu (KBT). Proyek tersebut dengan membangun tiga sektor yang saling terkait, yaitu pelabuhan, pusat pendaratan ikan (PPI), dan TRPK. Tujuannya untuk mengencangkan perputaran roda ekonomi. Apa yang menjadi harapan Hendarsono, setidaknya sudah bisa terjawab oleh perkembangan sekarang. Sebab, dengan dibangunnya beberapa fasilitas umum yang terkait dengan proyek KBT sudah mampu memberikan manfaat cukup besar, baik untuk masyarakat maupun pemerintah. Terbukti, kegiatan pelelangan ikan di PPI Tasikagung mengalami peningkatan yang signifikan. Adapun di sepanjang jalan yang menghubungkan pelabuhan, PPI, dan TRPK banyak bermunculan toko dan warung makan. Begitu juga keberadaan kolam renang, meski baru empat bulan dioperasikan, ternyata mampu menyedot ribuan pengunjung. Terhitung sejak Juli-Oktober 2003, jumlah pengunjung kolam renang mencapai 13.693 orang. Manajer Kolam Renang Ir Budi Darmawan yang didampingi Kepala Kantor Pariwisata Drs Sodiq menjelaskan, harga tiket masuk kolam renang dibagi dua. Kategori anak harga tiketnya Rp 3.000 (pagi) dan Rp 5.000 (malam), sedangkan dewasa Rp 5.000 (pagi) dan Rp 10.000 (malam). Selain itu, ada tiket berlangganan yang diberi potongan harga 25%. Menurut Budi, hasil penjualan tiket cukup menggembirakan, karena mampu memberikan kontribusi kepada Pemkab. Pada Juli misalnya, pendapatan mencapai Rp 21.985.000, Agustus Rp15.345.000, September Rp14.205.500, dan Oktober (pada 1-12) Rp 6.374.000. Total pendapatan empat bulan Rp 57.909.500. Hasil tersebut, 40%(Rp 23.163.800) masuk kas daerah. Sisanya 60% (Rp 34.745.700) digunakan untuk pengembangan kolam renang, sekaligus memberi honor kepada 18 karyawan. Pengunjung yang banyak berdatangan, merupakan bukti bahwa keberadaan kolam renang dibutuhkan warga. Namun, pihak pengelola jangan lantas bangga. Sebab, kenyataannya masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki, misalnya menyangkut kekurangramahan petugas yang ada di tempat itu. (Djamal A Garhan-80s) |