logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 15 Oktober 2003 Tajuk Rencana  
Line

OKI Menghadapi Persoalan-persoalan Berat

- Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT OKI), yang dibuka Kamis ini di Kuala Lumpur, Malaysia, dihadapkan pada banyak sekali masalah baik internal maupun eksternal. Internal, lebih banyak negara anggota menghadapi masalah dalam negeri yang pelik mulai dari masalah ekonomi, politik, sampai keamanan. Dalam bidang ekonomi juga masih ada ketimpangan sangat mencolok. Ada negara tergolong maju dan makmur. Sebaliknya, ada pula yang baru berkembang dan dihadapkan pada berbagai kesulitan. Namun karena berbagai faktor, sesama anggota OKI tidak mampu menjalin kerja sama harmonis dan saling menguntungkan.

- Dalam bidang politik, para pemimpin banyak negara terus bertikai dan bersaing memperebutkan kekuasaan secara tidak sehat. Di Benua Afrika, kudeta silih berganti terjadi di beberapa negara. Akibatnya, pemerintah tidak mampu membangun dan rakyat bertahun-tahun tetap sengsara dibelit kemiskinan dan kelaparan. Belakangan ini problem bertambah oleh kemerebakan kelompok radikal. Selain yang sudah menjadi masalah laten, banyak pula yang menjadi masalah justru setelah berbagai negara mengembangkan demokrasi dan keterbukaan. Kelompok radikal yang baru muncul, misalnya, di Indonesia, Malaysia, Iran, dan Pakistan. Itu sudah menjadi masalah laten di negara-negara Maghribi, termasuk Mesir.

- Kelompok radikal yang baru muncul, terutama setelah peristiwa 11 September 2001, menyebabkan beberapa negara dihadapkan pada persoalan dalam negeri yang rumit. Yang dinilai paling parah adalah keadaan di negara kita. Teror bom telah mendatangkan malapetaka besar di bidang ekonomi, politik, dan keamanan. Juga memperburuk keadaan yang payah akibat krisis ekonomi. Ada pengamat politik berpendapat, sangat mungkin Indonesia sedang dijadikan ladang percobaan teror bom oleh kelompok radikal antarnegara sebelum melancarkan program serupa yang lebih besar, dengan sasaran lebih banyak, di berbagai negara.

- OKI dinilai sebagai organisasi yang sangat potensial, besar, namun mandul. Kritik yang paling pedas menyebutkan, organisasi itu tak berbeda dari berbagai organisasi internasional lain yang oleh para pemimpinnya cuma dijadikan wadah pidato dan melontarkan kecaman. Namun selanjutnya tidak ada tindakan konkret yang bermanfaat langsung bagi anggota-anggota, apalagi masyarakat dunia. Dalam menghadapi banyak persoalan dunia, 55 negara anggota sulit bersuara satu. Mereka lebih mendahulukan kepentingan sendiri, selain terseret keterikatan dan komitmen dengan negara besar atau negara lain non-OKI.

- Contoh paling baru adalah masalah Afghanistan, kemudian Irak. Keduanya negara dengan tradisi Islam tua yang sudah berusia berabad-abad. Kedua negara dan bangsa itu sangat kaya khazanah dan budaya Islam. Namun apa yang bisa diperbuat OKI ketika kedua negara itu digempur dan dihancurkan oleh sekutu AS-Inggris? Apa pula yang bisa diperbuat untuk menyelamatkan Palestina dari tindasan Israel dan belakangan ini melakukan serangan-serangan membabi buta dan dipimpin oleh PM Ariel Sharon, jenderal dengan tangan yang berlumur darah rakyat Palestina? Tak berbuat sesuatu atas ketidakadilan di sana yang telah terjadi berpuluh-puluh tahun?

- Setelah peristiwa September kelabu, para pemimpin OKI umumnya sependapat bahwa Islam makin terpojok akibat generalisasi sebagai teroris. Itu terlepas dari kenyataan bahwa banyak teroris di banyak negara mengaku sebagai pejuang Islam. Di Indonesia pun, para teroris sampai hati mengorbankan negara dan bangsanya. Tugas OKI sangat berat menghadapi semua kenyata itu. Yaitu, membangkitkan kesadaran dan kerja sama yang lebih konkret antaranggota untuk mengakhiri tindakan tak adil terhadap negara dan umat Islam. Membangun kerja sama mewujudkan amanat bahwa agama Islam adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA