
| Rabu, 15 Oktober 2003 | Surat Pembaca |
Mohon Dirut PDAM Beri Tanggapan
Beberapa waktu lalu saya menulis di Surat Pembaca bertema "Mengapa Air PDAM Tidak Mengalir Lagi". Juga di Seputar Semarang menulis banyak tanggapan/keluhan masyarakat terhadap air sebagai sumber kehidupan manusia. Saya berharap agar masyarakat tidak segan-segan menyampaikan keluhan air dan kenapa baru sekarang diadakan perbaikan saluran. Kenapa air yang tidak lancar tidak segera diperbaiki. Tolong Direktur PDAM segera menanggapi. Sebagai direktur baru dan dipilih orang PDAM sendiri, cepatlah mengatasi. Kalau meteran airnya tidak jalan dihitung secara periodik per detik, ada kerugian PDAM. Misalkan pemakaian air yang dipakai sekitar 30 M2. Tetapi karena meteran rusak, pemakaian hanya 0 M2. Jelas ada kerugian bagi PDAM. Sebagai pelanggan yang baik, kita tak rugi malah untung karena membayar sesuai tertera pemakaian air yang minim tersebut. Yuliantoni
***
Pemerkosaan AnakSaya sangat kecewa atas perlakuan tidak senonoh terhadap anak di bawah umur. Saat ini banyak anak kecil putus harapan karena ulah orang dewasa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Saya merasa ulah orang-orang sekarang biadab, sebab berlaku tidak senonoh terhadap anak-anak di bawah umur. Aku berharap agar orang-orang yang memperlakukan anak-anak seperti itu harus dihukum seumur hidup, karena telah merebut kehormatan yang dimilikinya. Padahal jika kita tengok korbannya mempunyai jalan hidup yang masih panjang dan punya harapan untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Octa Asdiany
***
Tanggapan untuk Sdr Taufan Arif
Dalam tulisan Surat Pembaca tentang STPDN berjudul " Mendidik Generasi Pembohong" beberapa hari lalu, sungguh Sdr Taufan Arif NS pantas dapat penghargaan dan benar-benar jiwa seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Akan tetapi namanya manusia, tentu ada yang lemah ada pula kuat, ada yang baik - ada pula jelek. Jadi apa tidak menyesal kalau STPDN harus dilikuidasi, sebab sekolah di situ gratis, dapat uang saku, terus setelah lulus jadi pejabat, enak kan ? Mengenai urusan pendidik pembohong atau anak didiknya kejam, itu kan sudah sesuai peraturan yang berlaku, sesuai arah pembangunan birokrasi kolonial. Tujuannya agar mempunyai nilai plus untuk menggertak rakyat sehingga patuh pada semua peraturan yang diberlakukan. Misalnya seorang perangkat desa dengan seenaknya menarik swadaya 25 % dari PBB, maka kita harus bayar sebab untuk pembangunan. (bukti terlampir). M Handa Mulyana
***
Ikut Asuransi Mobil
Setiap orang berharap setelah mengikuti asuransi, hak-haknya bakal terlindungi/terjamin. Demikian pula harapan saya mengikuti Asuransi Takaful sejak 18 September 2002 hingga 18 September 2003. Yang dipertanggungkan, Honda City dan tiap tahun harus menyetor Rp 3.124.000. Tanggal 27 Oktober 2002 saya kecelakaan di daerah Temanggung. Mobil yang diasuransikan rusak parah dan oleh pihak asuransi diambil dari pihak kepolisian untuk diperbaiki. Anehnya, setelah beberapa bulan kondisi mobil masih rusak. Melihat fenomena ini saya terpaksa bolak balik dari Pekalongan-Semarang dan belum lagi biaya telepon untuk mengetahui nasib mobil saya. Sudah ratusan ribu rupiah uang saya keluarkan hanya untuk memantau kondisi mobil itu. Yang menjadi sakit, nampaknya tidak ada jawaban memuaskan dari pihak asuransi, sementara kondisi mobil makin parah. Pihak asuransi benar-benar tidak mengayomi nasabahnya melainkan justru menyengsarakan dan menyakiti nasabah. Padahal, pihak asuransi telah mengirimkan surat resmi yang menyatakan jika mobil bisa pulih kembali pada 24 Mei 2003. Tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Bahkan ketika saya cek ke bengkel yang menjadi rekanan di Semarang, malah mirip tong sampah. Saya berharap pengelola terbuka dan sadar akan hak-hak nasabah yang belum terpenuhi. Sebagai orang Islam saya kecewa bila simbol-simbol Islam digunakan untuk bisnis namun pada kenyataannya justru jauh dari nilai Islam. Kepada pembaca saya imbau berhati-hati ikut asuransi sebab cukup saya yang menjadi korban. H Himawan Wisnu
***
Pemberian Gelar Diminta Selektif
Menanggapi tulisan saya di Suara Merdeka edisi Solo, 4 Oktober 2003 tentang pemberian gelar, dan guna mencegah kesalahan tafsir, persepsi serta demi kebenaran/obyektivitas, saya menyampaikan pelurusan. Saya akui sebagian besar tulisan tersebut benar dan sesuai tulisan saya. Namun ada sebagian yang penting malah terlewatkan (tidak ditulis), sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan salah tafsir, "salah kedaden" dan salah pengertian bagi pembaca. Kalimat yang hilang tersebut berbunyi "Seiring dengan adanya gejala tren obral gelar kesarjanaan (Drs SH bahkan DR), maka akhir-akhir ini disinyalir ada isu/gosip tentang obral gelar bangsawan, yang suatu ketika mungkin akan menimbulkan kemerosotan bobot gelar itu sendiri. Bahkan mungkin akan menimbulkan sinisme bagi mereka yang tidak senang, misalnya adanya dugaan komersialisasi gelar, anggapan adanya ketidakadilan dari Sri Pakoe Boewono XII, yang pada akhirnya bisa menimbulkan gejolak di kalangan sentana dalem dan abdi dalem..., dugaan KN (kolusi dan nepotisme). Yang sementara ini juga dikhawatirkan sebagian masyarakat, adalah dugaan adaya gejala politisasi atas adanya pemberian gelar bangsawan tersebut, yang dianggap kurang selektif dan cenderung tidak adil." Pelurusan ini perlu sebagai pangejawantahan rasa tanggung jawab saya. Hayu, niskala, satuhu!!! "Datuk" Drs Setyadji Pantjawidjaja
***
Mohon Petunjuk
Saya gadis 22 tahun dari keluarga sederhana. Pendidikan terakhir SMK Pariwisata dan kini bekerja sebagai karyawati biasa pada sebuah perusahaan swasta. Sesungguhnya, saya ingin memperoleh penghasilan dari kegiatan/usaha sendiri. Tetapi sampai sekarang belum terwujud. Saya yakin, banyak pembaca yang dulu dalam posisi seperti saya sekarang. Tetapi kini sukses dengan usaha yang awalnya juga merintis secara kecil-kecilan. Saya berharap Bapak/Ibu/ Saudara yang sukses berkenan memberi petunjuk/saran mengenai jenis usaha yag saya inginkan. Akan lebih baik lagi kalau ada pemberi petunjuk usaha sekaligus berkenan sebagai bapak angkat yang bersedia menampung produk saya dari hasil yang disarankan. Dulu, di SLTP, saya juga suka membuat tulisan sederhana dan pendek. Kadang saya menerima honor dari tulisan itu. Kini dengan banyaknya jenis media cetak, saya pikir cukup banyak peluang untuk mencoba. Saya ingin belajar mengais rezeki dari bidang ini. Saya yakin banyak pembaca yang suka menulis dan tulisannya menghasilkan uang. Kepada Bapak/Ibu/Saudara, saya mohon petunjuk jenis tulisan apa saja yang sebaiknya saya buat (sebagai orang yang baru belajar menulis). Nama/alamat media cetak berikut nama rubriknya yang lebih berpeluang tulisan saya dapat termuat. Dyah Wuryandari |