logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 15 Oktober 2003 Sala  
Line

RIWAJATMOE DOELOE

KGPAA Mangkunagoro VI

Hidup Prihatin, Mengembalikan Ekonomi Pura

RADEN Mas Suyitna yang tahta sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunagoro VI untuk menggantikan kakaknya (KGPAA Mangkunagoro V) yang wafat, memimpin Pura Mangkunegaran dalam masa yang benar-benar memprihatinkan.

Karena itu, tak heran jika hampir sepanjang masa kekuasaannya, 5 November 1896 - 4 Januari 1916, selalu disibukkan dengan tugas berat untuk mengembalikan kehidupan ekonomi Pura dari keterpurukan yang terjadi pada masa kepemimpinan KGPAA Mangkunagoro V.

Bahkan, karena tanggung jawab itu, seperti yang diungkapkan dalam buku Karya Budaya KGPAA Mangkunagoro I-VIII karangan Prof Suwaji Bastomi, dalam mengelola praja Mangkunegaran, anak keempat dari KGPAA Mangkunagoro IV itu sangat hati-hati.

"Sebab, hingga tahun 1891 praja Mangkunegaran masih dalam keadaan miskin. Perekonomian Mangkunegaran masih dikuasai Pemerintah Belanda," papar Suwaji Bastomi dalam bukunya tersebut.

Hemat dalam keuangan, menjual sebagian aset tanah untuk menebus aset tanah yang lain adalah beberapa hal yang bisa menunjukkan tentang kehati-hatian pemimpin Pura yang lahir 13 Maret 1857 tersebut. Langkah lain yang ditempuh, termasuk mengurangi anggaran belanja praja serta menyusutkan jumlah Legiun Mangkunegaran.

Perintah

Kondisi yang sangat sulit dengan terpuruknya perekonomian Pura Mangkunegaran juga terungkap jelas dari apa yang dipesankan sekaligus diperintahkan KGPAA Mangkunagoro VI kepada nara praja, yang di sisi lain juga sebagai upaya untuk menyosialisasikan hidup hemat.

"Iki jaman rekasa, kas praja kothong, malah akeh utange, mula praja nganti ora bisa paring blanja marang kowe kabeh. Anane kaya mangkono amarga tandurane kabubidayan Mangkunegaran padha katrajang ing ama, asile pabrik-pabrik mung sethithik diedol ora payu. Bisane payu kudu diregani luwih endhek tinimbang sing uwis-uwis. Awit saka kuwi kowe kabeh kudu bisa nyuda metuning dhuwit utawa apa bae. Cekake kowe kabeh kudu gemi, nastiti, ngati-ati lan nggedheke prihatin supaya enggal antuk parimarmaning Pangeran Kang Maha Agung. Estokna. (Sekarang jaman penderitaan, keuangan praja kosong, bahkan banyak utang, sehingga praja tidak dapat memberi gaji kalian. Hal itu terjadi karena pembudidayaan tanaman diserang hama, penghasilan pabrik sedikit dan tidak laku. Kalau mau laku harus dijual dengan harga rendah. Karena itu, kalian harus hemat, cermat, berhati-hati dan mengutamakan prihatin agar cepat mendapat limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Perhatikan)."

Beranjak dari pesan tersebut, akhirnya sikap hemat dan teliti yang dilakukan KGPAA Mangkunagoro VI dan diikuti para nara praja, membuat perekonomian Pura sedikit demi sedikit berangsur-angsur pulih. Hingga ketika kondisinya telah normal kembali, gaji nara praja dinaikkan kembali. Pura Mangkunegaran pun kembali seperti sediakala, seperti saat sebelum ekonominya terpuruk. (Wisnu Kisawa-17k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA