
| Rabu, 15 Oktober 2003 | Berita Utama |
Media di Filipina pun Skeptis
JAKARTA- Spekulasi tewasnya Al-Ghozi hingga Selasa (14/10) masih menjadi kontroversi di Filipina. Sejumlah media di negeri itu, hari ini menurunkan sejumlah artikel yang berisi keragu-raguan atas tewasnya Ghozi dalam baku tembak di Provinsi Cotabota Utara. Kelompok media Inquirer menurunkan artikel bertajuk "Tewasnya Al-Ghozi: Tertembak atau Ditembak?" Media itu menulis, seorang pejabat militer berbasis di Zamboanga City menyatakan Ghozi "dieksekusi'' setelah PACER membayar sejumlah besar uang pada anggotanya. PACER alias Police Anti-Crime and Emergency Response Unit adalah tim elite Polisi Nasional Filipina (PNP) yang memburu Ghozi. Media ini juga memasang foto jenazah yang memang mirip Ghozi dengan ciri khas alis tebalnya. Foto itu berisi kepsen kecurigaan, jenazah Ghozi telah lama berada di lemari pendingin. Star menulis rumor Ghozi telah tertangkap semingguan lalu, kemudian sengaja dihabisi. Seorang pejabat angkatan darat yang terlibat dalam pengejaran Ghozi selama tiga bulan mendukung kecurigaan itu. "Ada indikasi, insiden itu sebuah skenario militer klasik," ungkap sumber yang meminta namanya dirahasiakan. "Saya menduga, Al-Ghozi telah ditawan pemerintah sebelum dia dinyatakan tewas tertembak," sambungnya. Senator Ramon Magsaysay Jr yang dekat dengan militer juga menduga, Ghozi tewas dieksekusi suatu kelompok yang bertanggung jawab atas kaburnya Ghozi dari Camp Crame, markas PNP di Quezon City pada 14 Juli lalu. "Itu terlalu sempurna sebagai kenyataan," komentar Magsaysay, Ketua Komite Hankam Senat Filipina. Dia menyatakan teori Ghozi ditembak, didukung statemen Gubernur Cotabato Utara Emmanuel Pinol yang menyatakan tidak ada baku tembak di provinsinya. Ini berlawanan dengan klaim PNP. Sementara itu di Camp Crame, juru bicara PNP Ricardo de Leon menekankan, publik seharusnya melihat fakta dan bukti. Kepala PACER Alan Purisima juga meminta agar tugas PNP tidak dicemari unsur politik dan spekulasi. Sementara itu koran Singapura The Straits Times mempertanyakan, apakah Ghozi dieksekusi untuk mengesankan Bush. Atas spekulasi ini, otoritas Filipina juga telah menyangkalnya. Sebelumnya, beredar rumor Ghozi yang setelah kabur dari Camp Crame berada di bawah kekuasaan pemberontak muslim di selatan Filipina. Kelompok ini bernegosiasi dengan pemerintah. Kabarnya, pemerintah menyerahkan 10 juta peso pada pemberontak sebagai ganti Ghozi hidup atau mati. Untuk mengeksekusinya, PNP mendapat gelontoran 20 juta peso. Arroyo Membantah Tahu kematian itu mengundang kontroversi, Presiden Arroyo pun bersuara. Dia menegaskan, Ghozi tidak mati karena sengaja dieksekusi untuk memberi memberi kesan pada Presiden Bush yang hendak bertamu ke Manila. "Saya bertahan pada laporan operasional yang berwenang dalam kasus ini," kata Arroyo, Selasa (14/10). Namun, para tokoh oposisi Filipina tetap mencurigai bahwa Ghozi sengaja dibunuh agar pria asal Madiun itu tidak "bernyanyi" tentang kasus kaburnya pada 14 Juli lalu dari Mabes Polri-nya Filipina (PNP) di Camp Crame. Jika dia "bernyanyi", tentu membuat malu polisi dan Arroyo. Sementara itu pejabat-pejabat Filipina mengingatkan pemerintahnya, kelompok Jamaah Islamiyah (JI) bisa saja melancarkan serangan balasan atas kematian Ghozi. Untuk itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Penasihat Keamanan Nasional Filipina, Roilo Golez, seperti diberitakan AFP, Selasa (14/10), mengharapkan agar pemerintahnya tidak lengah menghadapi terorisme regional dan di dunia. ''Malahan kita harus meningkatkan kewaspadaan,'' tandas penasihat Presiden Gloria Macapagal Arroyo itu.(dtc-64j) | |||||