logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 15 Oktober 2003 Berita Utama  
Line

Ghozi Diduga Sengaja Ditembak

  • Deplu Didesak Minta Penjelasan
TIBA DI MANILA: Sejumlah polisi Filipina mengawal peti yang membawa jenazah Al-Ghozi yang tiba di Bandara Manila, kemarin. Rencananya jenazah Ghozi dibawa ke Indonesia atas biaya pemerintah Filipina.(55t)

JAKARTA- Kematian Fathur Rohman Al-Ghozi yang masih menyimpan misteri, praktis mengundang keheranan sejumlah pihak. Setidaknya muncul spekulasi, kemungkinan ahli pembuat bom Jamaah Islamiyah ini sengaja ditembak aparat kepolisian Filipina. Untuk menjawab teka-teki itu, Deplu dan Polri didesak meminta kronologi resmi peristiwa tewasnya Al-Ghozi.

"Pemerintah harus segera meminta penjelasan dan kronologi resmi tewasnya Al-Ghozi ini. Selain itu, harus diambil langkah pembelaan terhadap dia," kata anggota Komisi I DPR Chotibul Umam Wiranu saat ditemui di Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, Selasa (14/10).

Dia menyampaikan keheranan terhadap kemisteriusan kematian warga Indonesia yang dituduh terkait dengan terorisme di Filipina itu. Dia lantas menduga, Ghozi sengaja ditembak aparat kepolisian Filipina.

Hal ini, ujar dia, diperkuat masih banyaknya misteri soal pelarian Al-Ghozi dari penjara di Filipina. "Soal pelariannya saja masih tidak jelas peristiwanya. Ini kemudian tiba-tiba ditemukan dalam keadaan tewas. Kelihatannya ini sudah jadi kebiasaan aparat, jika ada seseorang yang masuk daftar pencarian orang (DPO) bisa ditembak begitu saja," ungkapnya.

Dia berpendapat, kematian Al-Ghozi ini telah memutus mata rantai yang seharusnya bisa memberikan penjelasan terhadap pengungkapan dugaan aksi terorisme. Pasalnya, selama ini dugaan Al-Ghozi terlibat tindakan terorisme belum bisa dibuktikan.

"Padahal, jelas kita ingin mengungkap pelaku terorisme. Namun jika belum divonis lalu sudah tewas begini, tentu akan sulit," tandas anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) ini.

Pemulangan

Sementara itu, harapan keluarga agar jenazah Al-Ghozi bisa dibawa pulang ke Indonesia agaknya akan segera terkabul. Pemerintah Filipina telah memutuskan memulangkan jenazah Ghozi ke Indonesia, bahkan menanggung biayanya.

Kuasa hukum keluarga Al-Ghozi, Adnan Wirawan, mengaku memperoleh informasi ini dari Kepala Penerangan Kedutaan Besar RI di Filipina, Triyogo Jatmiko, yang menghubunginya melalui telepon.

"Saya memperoleh informasi dari Triyogo, kepulangan Ghozi ke Indonesia akan ditanggung Filipina. Pemerintah negera itu memberitahukan rencana ini ketika didatangi staf KBRI," jelasnya.

Selain itu, tutur Wirawan, dia sudah menerima faksimile dari Deplu bahwa jenazah Ghozi sudah dibawa dari General Santos ke Manila. Jika proses administrasi bisa cepat selesai, diharapkan jenazah sudah bisa diterbangkan ke Jakarta pada Selasa ini.

"Ini memang cuma estimasi. Sampai sekarang saya belum menerima informasi resmi kapan jenazah Ghozi diterbangkan ke Jakarta. Namun, soal akan dipulangkan ke Indonesia, itu sudah pasti," jelas Wirawan.

Dia mengatakan, sudah mengajukan permintaan ke Direktorat Perlindungan Warga Negara Deplu agar negara menanggung biaya penerbangan jenazah dari Jakarta ke Madiun, tempat tinggal keluarga Ghozi.

"Mbok ya pemerintah punya kebijakan sedikit. Pemerintah Filipina saja berani menanggung kepulangan jenazah Ghozi ke Indonesia, masa Indonesia tidak berani menanggung yang ke Madiun. Bagaimanapun Ghozi kan warga negara Indonesia," paparnya.

Sementara itu, juru bicara Deplu Marty Natalegawa menginformasikan, jenazah Ghozi Selasa telah dibawa ke ibu kota Filipina, Manila. Jadi, kini sedang dalam proses pemulangan ke Indonesia. Namun, masih menunggu jadwal pesawat."

"Konjen kita di Davao City sudah melihat jenazah Ghozi, yang dipastikan melalui sidik jari. Jenazahnya hari ini dipindahkan dari General Santos ke Manila untuk pengurusan kepulangan ke Indonesia," ungkapnya di Jakarta, Selasa.

Dia memastikan, Pemerintah Filipina sudah menyetujui permintaan keluarga Al-Ghozi yang meminta agar jenazah almarhum dipulangkan ke Indonesia dengan biaya Pemerintah Filipina. Namun, Marty belum memastikan kapan jenazahnya akan diberangkatkan dari Manila. Termasuk apakah jenazah itu akan langsung dibawa ke tempat kelahirannya di Madiun, Jawa Timur. "Kami masih mengurus dan mengecek jadwal pesawat yang akan membawa jenazah," ucapnya.

Pemulangan jenazah Al-Ghozi didasarkan atas permintaan keluarga almarhum. Pada Senin (13/10) siang, ibunda almarhum, Ny Rukanah (58), di kediamannya di Madiun, Jawa Timur, menyampaikan keinginan agar Pemerintah Filipina memulangkan jenazah anaknya untuk dimakamkan di Desa Mojorejo, Madiun.

"Saya berharap agar jenazahnya bisa dibawa pulang dengan biaya ditanggung Pemerintah Filipina. Kalau memang tidak bisa dibawa ke sini, saya minta jenazahnya dikuburkan begitu saja tanpa dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Sebab, dia telah mati syahid," katanya.

Al-Ghozi (31) dilaporkan tewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan Filipina di Pulau Mindanao, Filipina Selatan, Minggu (12/10), tiga bulan setelah melarikan diri dari penjara polisi di Manila.

Di penjara yang dijaga ketat itu, dia tengah menjalani hukuman 17 tahun penjara yang dikenakan terhadapnya, karena memiliki sejumlah bahan peledak yang dirakitnya menjadi bom. Kematiannya secara resmi diumumkan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, Senin.

Diragukan

Pada bagian lain, Adnan Wirawan meragukan kliennya tewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan Filipina. Dia bahkan ragu bahwa Ghozi melarikan diri dari penjara. "Kasus tewasnya jelas menimbulkan berbagai pertanyaan. Saya bahkan ragu, Ghozi melarikan diri," ungkapnya.

Dia menegaskan, kliennya hanya dihukum 10 tahun penjara, bukan 17 tahun penjara sebagaimana sering diberitakan media massa. Ghozi pun dihukum memiliki benda kimia tidak sah. Jadi, bukan karena terbukti mengebom sehingga menewaskan puluhan orang di Metro Manila.

Hukuman 10 tahun penjara ini, jelas Wirawan, masih bisa berkurang bila si terpidana berkelakuan baik. "Menurut perhitungan saya, berdasarkan ketentuan hukum di Filipina, hukumannya bisa berkurang sampai 60%. Jadi, saya susah membayangkan dia melarikan diri."

Wirawan menyatakan pihaknya akan meminta penjelasan resmi kepada Pemerintah Filipina soal kronologi tewasnya Ghozi. Namun upaya ini akan dilakukan kemudian, karena yang menjadi prioritas sekarang adalah pemulangan jenazahnya ke Tanah Air.

Di Filipina, kasus tewasnya Ghozi menimbulkan spekulasi. Apalagi ''kabar baik'' ini muncul hanya beberapa hari sebelum kunjungan Presiden AS George W Bush ke Filipina.

Kepala Kepolisian Nasional Filipina Hermogenes Ebdane menekankan, Ghozi tewas dalam baku tembak di kota Pigkawayan di Cotabato Utara. Ghozi tewas karena menderita lima luka tembakan. Dua di dada, satu di pinggangnya, dan 2 di kedua lengannya.

Namun, Kepala Polisi Kota Pigkawayan Suyom membantah telah terjadi tembak-menembak di wilayahnya ataupun di lokasi itu. "Bisa dipastikan tak terjadi tembak-menembak di situ," kata Suyom seperti dikutip Associated Press.

Sementara itu Teodoro Casino, Sekjen Bayan yang berhaluan kiri menilai, tewasnya Ghozi seperti skenario yang sudah disiapkan. "Waktunya begitu sempurna. Kami menduga Ghozi telah tertangkap sebelumnya, kemudian dibunuh pada saat yang tepat."

Selain itu, sebelumnya juga sudah berembus rumor di kalangan militer, dia telah ditangkap di Cotabato. Sumber intelijen militer mengisyaratkan, Ghozi telah berada di tangan pemerintah. Dia akan ditunjukkan kepada Presiden Gloria Macapagal Arroyo sebelum kunjungan Presiden AS George W Bush ke negeri itu pada 18 Oktober.

Kepala Staf Militer Jenderal Narciso Abaya tidak menyangkal dirinya telah mendengar kabar penangkapan itu. Namun, dia tidak ingin berkomentar lebih jauh. Alasannya, dia belum menerima laporan dari anak buahnya soal penangkapan itu. Dia hanya mengatakan, tidak ada alasan penangkapan seperti itu disembunyikan.

Cek Mayat

Sementara itu, telah teridentifikasinya jenazah Ghozi oleh tim forensik Filipina, tidak menghentikan AS untuk memastikannya sendiri. Dilaporkan Sun Star, Selasa (14/10), Kedutaan Besar AS mengirimkan dua ahli forensiknya untuk mengidentifikasi, yakni Dr Bon Kohlstorm dan Matthew Nielsen. Keduanya mengambil contoh jaringan dari mayat Ghozi untuk tes DNA.

Jenderal Hermogenes Ebdane mengemukakan, dua orang berkebangsaan AS itu sudah ada di kamar jenazah, ketika dia tiba di rumah pemakaman. Namun, dia tidak menyebutkan apakah keduanya ahli forensik. (dtc,ant-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA