
| Rabu, 15 Oktober 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Persiapkan Warga
SEMARANG - Pemerintah Kota diminta mempersiapkan warga Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan mengantisipasi banjir lumpur yang bisa datang setiap saat. Penanganan darurat seperti itu perlu dilakukan, karena pembuatan embung maupun bangunan penangkap lumpur tentu membutuhkan waktu. Pendapat itu disampaikan ahli pengairan Undip Robert J Kodoatie Phd, kemarin di Magister Teknik Sipil Undip. Penyiapan warga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari memberikan informasi tentang tanda-tanda akan datangnya banjir, sampai membuka posko 24 jam di lokasi. Menurut dia, tidak mudah untuk membuat bangunan penangkap lumpur maupun embung pada saat hujan sudah sering turun. Padahal saat ini, keberadaan sungai itu sudah mengancam warga. Dia mengatakan, sungai Silandak memang ganas. Pada saat tidak ada hujan, air yang mengalir sangat sedikit. Sebaliknya, pada saat hujan debit air bisa meningkat cepat dan aliran airnya cukup deras. ''Tidak bisa dibayangkan, jika nantinya hujan yang turun di Kota Semarang intensitasnya meningkat,'' kata dia. Sementara itu, ahli pengairan Dr Ir Nelwan Dipl HE mengatakan, masalah banjir lumpur di Purwoyoso harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Musibah itu, menurut dia harus mampu mengubah konsep berpikir. Orientasi pembangunan bukan hanya faktor ekonomi, tetapi juga masalah kemanusiaan. ''Slogan pembangunan berwawasan lingkungan itu sudah kuno, dan perlu diganti dengan pembangunan berwawasan kemanusiaan dan cinta kasih,'' kata dia. Nelwan menyatakan tidak merekomendasikan pembangunan embung di sungai Silandak, karena tidak efisien. Menurut pertimbangannya, lokasi di blok 7 dan 8 Kawasan Industri Candi merupakan daerah labil. Tanahnya merupakan campuran antara lempung bercampur lumpur dan pasir. Maka biaya yang dibutuhkan tentu sangat besar dan lama. Selain itu jika sampai terjadi pergerakan dan embung jebol, akan terjadi banjir besar di bagian bawah. Untuk mengatasi masalah banjir lumpur, dia menyarankan tetap dibangun penangkap lumpur. Bentuknya tidak selalu berupa terjunan seperti ''trap-trapan'', tetapi bisa berupa tumpukan batu kali. Material itu banyak terdapat di lokasi, sehingga bisa langsung dimanfaatkan. Berkaitan dengan pelurusan sungai, dia menyatakan sependapat karena hal itu bisa mengurangi masalah di Kali Silandak. Menurutnya, keganasan Kali Silandak, antara lain karena alurnya berkelak-kelok. Diakui, penyudetan lekukan sungai akan menambah kecepatan arus air sekitar 5 % sampai 10 %. Namun hal itu sudah diantisipasi dengan pembangunan penangkap lumpur.''Penangkap lumpur itu sekaligus bisa mengurangi kecepatan air,'' kata dia. Bantuan Sementara itu, bantuan untuk warga Purwoyoso terus mengalir. Setelah mendapatkan bantuan sementara dari PT Indo Perkasa Usahatama (IPU) sebesar Rp 5 juta, datang lagi dana segar dari pengembang tersebut, kemarin (14/10). ''Tadi (kemarin-Red) ada kucuran dana lagi sebesar Rp 8.200.000,'' kata Lurah Purwoyoso, Sutrisno. Bantuan Rp 5 juta sebelumnya, kata dia, sudah digunakan bagi warga RT 1, 2, 4, 5, dan 6 RW 4 untuk keperluan kebutuhan mendesak. Misalnya membeli seragam sekolah, sepatu, tas, serta alat tulis yang hanyut atau rusak pada saat banjir lumpur. Adapun dana Rp 8,2 juta digunakan untuk keperluan serupa bagi warga RT 3 RW 4, serta RT 2 dan 4 RW 7. Warga di dua RT pada wilayah RW 7 tersebut kebetulan juga terkena banjir. Adapun warga di RT 3 RW 4 agak terlambat bantuannya karena datanya belum masuk ke PT IPU. Bantuan berupa paket sembako dan buku tulis kemarin juga diberikan oleh DPC PDI-P Kota. Bantuan 200 paket tersebut diserahkan langsung oleh Ketua DPC H Sriyono SSos. ''Bantuan tidak hanya untuk warga Purwoyoso, melainkan juga Ngaliyan dan Bambankerep,'' kata Sutrisno. (G6,G7-45) |