
| Rabu, 15 Oktober 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Menolak Mabuk, Dibacok hingga Luka ParahGAYAMSARI- Gara-gara menolak ajakan mabuk-mabukan, seorang lelaki dibacok dan dianiaya oleh sekitar sepuluh orang di kamar rumahnya, Senin (13/10) pukul 22.00. Akibat kejadian itu, Angga Santosa (20) warga RT 1 RW 7, Tambakan, Sawah Besar, Gayamsari menderita luka parah di tangan kirinya. Segera setelah kejadian itu, korban dilarikan ke RS Panti Wilasa Citarum untuk memperoleh perawatan. Namun, kemudian dia dirujuk ke RS Dr Kariadi, karena lukanya tergolong parah dan perlu dioperasi. Menurut hasil pemeriksaan dokter, ada sejumlah otot yang putus. Karena keluarganya tak punya biaya, tangan Angga terpaksa hanya diperban tanpa menjalani operasi besar. Hingga kemarin petang belum satu pun pelaku yang tertangkap, tetapi polisi sudah mengantongi identitas para tersangka yang diperkirakan kabur ke luar kota. Penganiayaan itu dipicu masalah sepele. Sekitar pukul 21.00, korban yang sendirian mengendarai sepeda motor hendak pulang dari bepergian. Sekitar 20 meter dari rumahnya, dia dipanggil tetangganya, Seno (18), yang sedang pesta congyang oplosan di depan rumah bersama tiga temannya. Dua di antara mereka dikenal Angga, yakni Mono dan Bimo. ''Mereka mengajak saya minum, tetapi saya tolak. Mereka misuh-misuh, tetapi saya biarkan dan langsung pulang,'' tutur Angga yang bekerja di sebuah bengkel karoseri di kawasan industri LIK Bugangan. Tak lama kemudian Angga keluar lagi mengantar istrinya, Anna (18). Dalam perjalanan pulang, ketika lewat di depan rumah Seno, Angga kembali dipanggil oleh para pemabuk itu untuk diajak bergabung. Lagi-lagi dia menolak. Hal itu membuat Seno dan teman-temannya marah. Mereka mengeluarkan kata-kata kotor yang menyinggung perasaan Angga. Korban mengaku tersulut amarahnya mendengar perkataan mereka. Menggeruduk Setelah mengantar istrinya pulang, Angga menemui keempat orang itu untuk menanyakan apa maksud mereka mengumpat dia dan istrinya. Perang mulut antara korban dan Seno dkk pun tak terelakkan. Angga mengaku saat itu sempat memukul Seno sebelum kembali ke rumahnya. Agaknya Seno dan teman-temannya tidak terima perlakuan itu. Terbukti, sekitar satu jam kemudian dia dan sejumlah temannya menggeruduk rumah Angga. Sebagian di antara mereka membawa parang. Kedatangan gerombolan itu membuat istri, mertua, dan adik-adik Angga ketakutan. Mereka berusaha mencegah pelaku masuk ke dalam rumah dengan mengunci seluruh pintu dan jendela. Namun, para tersangka yang sudah kalap itu tetap nekat. Sambil berteriak-teriak, mereka mendobrak pintu depan rumah korban dan langsung mencari Angga. Dalam keadaan terpojok korban dibacok dan dipukuli di kamarnya. Istri Angga hanya bisa menjerit dan menangis melihat suaminya dianiaya. Mertua dan dua adik Angga yang masih kecil juga tak dapat berbuat apa-apa, karena takut melihat keberingasan para pengeroyok. Menurut Angga, pelaku yang membacoknya bernama Har, tinggal di Sawah Besar, sedangkan lainnya memukuli dan sebagian mengepung di depan rumah. Setelah melampiaskan amarah mereka kabur. Sejumlah kerabat korban dan warga sekitar kemudian datang memberikan pertolongan dan melaporkan kejadian itu ke Polsek Semarang Timur. Polisi yang datang tak lama kemudian berusaha mencari pelaku, namun tak satu pun ditemukan. Polisi justru menahan Sahrozi (35), paman Angga, karena kedapatan membawa sebilah parang sepanjang hampir satu meter. Dia ditahan karena membawa senjata tajam di tempat umum. Sahrozi mengaku parang itu dia pakai berjaga-jaga bila penganiaya kepoznakannya muncul lagi. Tanpa disangka, justru dirinya yang ditangkap. (G3-83k) |