logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 15 Oktober 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Optimalisasi Sektor Pasar di Kendal (Habis)

Membangun Pasar untuk Mengejar Target PAD

DINAS Pengelolaan Pasar Pemkab Kendal merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Memasuki Oktober ini, instansi tersebut setidaknya telah menyetor 68% dari total target PAD Rp 4,175 miliar per tahun.

Perincian target PAD tersebut, yaitu penarikan retribusi pasar Rp 2,365 miliar, retribusi sampah Rp 110 juta, dan penjualan kios Rp 1,7 miliar. Besaran target setoran ke PAD yang relatif besar tersebut, tampaknya membuat Dinas Pengeloaan Pasar harus bekerja ekstra agar lebih mengoptimalkan potensi ataupun sumber dayanya.

Dalam kunjungan ke lapangan bersama sejumlah wartawan dari berbagai media massa, Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Drs Kuncahyadi menjelaskan, pada APBD 2004 mendatang pihaknya berencana memindahkan pasar tradisional Pegandon, relokasi pedagang kaki lima (PKL) di Sukorejo, dan renovasi pasar kayu/bambu di Weleri.

Adapun untuk APBD 2003, Dinas Pasar akan mengoperasikan pasar hewan Boja. Pasar hewan baru yang dibangun di atas lahan milik Pemkab 6.600 m2 dan berada di Dukuh Karangjati, Desa Bebengan, Boja itu merupakan pindahan dari pasar hewan yang sebelumnya menyatu dengan pasar tradisional Boja.

''Pembangunan pasar hewan yang baru menelan dana lebih kurang Rp 1 miliar. Di pasar ini, dibangun empat los yang diperkirakan mampu menampung 200 ekor sapi dan 300 ekor kambing. Pasar hewan ini juga dilengkapi sarana pengolah limbah cair dan padat. Kami berharap, dalam perkembangannya bisa menjadi pasar hewan terbesar di Jateng,'' ungkap Kuncahyadi.

Tidak Ada Istilah Rugi

Dia mengemukakan, renovasi pasar kayu/bambu Weleri bertujuan untuk lebih mengenalkan keberadaan pasar terebut. Jika pasar bambu sudah ditata, keberadaannya akan lebih dikenal. Selain itu, pedagang yang menempati lahan yang ada lebih tertib. Rencananya, renovasi dianggarkan pada 2004, dengan perkiraan dana Rp 7,5 miliar.

Dia menjelaskan, pedagang yang menempati pasar tersebut memiliki hak pinjam pakai atau izin menempati. ''Dari sini, nantinya pasar kayu/bambu dengan 30-an pedagang dan dibangun di atas lahan 1 hektare ini diharapkan mampu meningkatkan PADS.''

Khusus untuk relokasi bagi PKL di Sukorejo, lanjut dia, Pemkab Kendal telah menyediakan lahan 1 hektare. Lokasi lahan sangat strategis, lantaran berada persis di timur terminal bus Sukorejo. ''APBD 2004 mendatang, kami akan mengajukan Rp 2 miliar untuk keperluan ini. Tujuan dari relokasi, selain menertibkan keberadaan para PKL yang berdagang di sepanjang jalan utama Kota Kecamatan Sukorejo, juga untuk mengoptimalkan potensi mereka.''

Dia menuturkan, keberadaan para PKL, belakangan ini sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas, karena sebagian besar dagangan mereka menjorok ke jalan. ''Pasar relokasi diperkirakan akan menampung 250 pedangang.

Di tempat tersebut akan dibangun los-los dan kios-kios yang ditawarkan kepada pedagang selain PKL. Jika para PKL tersebut sekadar digusur dan ditertibkan, tidak akan menyelesaikan masalah. Pokoknya, tidak ada istilah rugi berkaitan dengan pembangunan pasar. Pasar mampu mendatangkan income yang besar,'' tandas Kuncahyadi. (Setyo Sri Mardiko-84j habis)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA