
| Rabu, 15 Oktober 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Wisata Sungai? Sayang Sedimentasinya ...BALIHO besar di dekat Jembatan Banjir Kanal Timur terpampang megah. Tertulis ''Jadikan Kota Semarang sebagai Kota Wisata karena Keindahan Sungainya''. Terpampang pula gambar Gubernur Mardiyanto dan Wali Kota Sukawi Sutarip. Namun, entah kapan tulisan itu terwujud. Pasalnya, sungai-sungai di Semarang menyimpan endapan lumpur dan sampah yang semakin meninggi. Karena itu, sungai-sungai tersebut harus dikeruk dan direkayasa sedemikian rupa agar bisa dinikmati keindahannya. Beberapa sungai ternama di Semarang, seperti Kaligarang, Banjir Kanal Barat, dan Banjir Kanal Timur, sayang belum digali potensinya lebih mendalam, misalnya di bidang wisata untuk menyusuri sungai untuk napak tilas beberapa puluh tahun lalu. Seperti yang dilakukan oleh rombongan mahasiswa dan pengajar di Program Magister Lingkungan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata, Sabtu (4/10). Mereka berusaha menyusuri rute susur Sungai Banjir Kanal mulai dari arah muara. Dengan alat transportasi perahu nelayan, mereka berangkat dari Mercusuar di tepi Kalibaru, perahu bernama Srunthul dan Luwes mulai bergerak menjauh keluar dari sungai itu. Semilir angin laut dan deru diesel mesin tempel mengiringi perahu yang mulai meninggalkan Mercusuar dan barisan kapal-kapal besar yang sedang berlabuh. Tak terasa sampai di Dam Hijau, perahu pun mulai bergerak ke arah muara Banjir Kanal Barat. Sesampai di tengah-tengah muara, terlihat Pantai Marina membentang di kanan. Sementara itu di kiri terlihat jebakan rumpun sampah-sampah yang dibuang di sungai oleh masyarakat Kota Semarang. Kapal pun mulai bergerak memasuki muara Banjir Kanal, namun sebentar kemudian perahu mulai melambat dan akhirnya mesin mati. Sengaja memang, karena di muara sungai yang lebar ini menyimpan endapan lumpur dan sampah yang tinggi. ''Wah ini sudah dangkal,'' ujar Toha si pemilik perahu Srunthul. Tak lama kemudian, dia pun maju ke ujung perahu dan mengambil tiang untuk mengetahui kedalaman air. Ternyata tak lebih dari 60 cm sudah mencapai dasar sungai yang berlumpur. Tak lama kemudian dia pun mencebur ke muara dan ternyata memang betul, ketinggian air pun tak lebih setinggi lutut Toha. Bersama rekannya, Antok, dia pun berusaha mencari jalur yang lebih dalam agar bisa masuk dan menyusuri alur Sungai Banjir Kanal. Dengan usaha keras dan perahu pun harus atret, Srunthul akhirnya bisa bisa masuk alur Banjir Kanal. Perlahan, Srunthul bergerak maju. Sambil sesekali melihat kemegahan Perumahan Semarang Indah, para dosen dan mahasiswa pun mengamati kondisi sungai dan lingkungan sekitarnya. Tak hanya lumpur, karena tak lama perahu pun melambat dan berhenti karena sampah membelit baling-baling pendorong perahu. Setelah diperbaiki, perahu pun bergerak lagi. Hingga mencapai area sungai di Madukoro, perahu pun benar-benar berhenti bergerak karena terhambat lumpur. Inilah yang menjadi realitas, ternyata sedimentasi di Sungai Banjir Kanal semakin menumpuk. Ketua Program Studi PMLP Prof Dr Budi Widianarko MSc yang memimpin rombongan pun ikut mendorong perahu yang kandas. Melihat kondisi ini, dia menyatakan sedimentasi ini semakin parah karena ulah manusia. Selain kerusakan lingkungan yang menyebabkan erosi di daerah hulu, diperparah lagi masalah sampah. ''Sedimentasinya tinggi ditunjang lagi perilaku manusia membuang sampah ke sungai. Terbukti dari timbunan lumpur dan sampah yang menghambat,'' katanya. Dia pun menuturkan, pengerukan mau tak mau harus dilakukan. Namun yang lebih utama, memperbaiki kondisi lingkungan di hulu dan mengubah perilaku masyarakat agar tak membuang sampah. Dia pun menyayangkan potensi wisata yang bisa dilakukan dengan menyusur sungai tak bisa diwujudkan karena pendangkalan. (Dian Y-84j) |