
| Rabu, 15 Oktober 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Musim Tanam Tiba Pupuk MenghilangPURWOKERTO-Sejumlah pengurus kontak tani di Banyumas mengeluh. Sebab, pada saat musim tanam tiba pupuk justru menghilang dari pasaran. Kalaupun ada, harganya di atas harga eceran tertinggi pemerintah. Ketika menjual hasil panen, petani juga dalam posisi terjepit. Mereka cepat-cepat menjual gabah pada saat panen walau harga murah karena butuh uang. Petani tak mampu menunggu harga tinggi karena saat itu hanya bisa menjual padi. Keluhan itu terungkap dalam dialog kontak tani se-Kabupaten Banyumas dengan distributor pupuk PT Citra Putra Bangsa (CPB) dan PT Pusri di Balai Kelurahan Purwanegara, Purwokerto, baru-baru ini. Acara itu dihadiri 47 pengurus kontak tani nelayan andalan se-Banyumas, Direktur Utama PT CPB Ny Irsani Damayanti, dan petugas PT Pusri Jateng. Kemitraan Ny Irsani mengakui sering menjumpai harga pupuk di petani di atas harga eceeran tertinggi. Harga eceran tertinggi urea Rp 1.050/kg, namun sampai ke petani di atas Rp 1.300/kg. Sebab, mata rantai distribusi panjang. Dia ingin membantu petani agar mendapat pupuk sesuai harga eceran dengan memotong rantai distribusi melalui program kemitraan. Petani mengambil pupuk dan membayar setelah panen dengan gabah kering giling. Cara itu dikenal petani dengan istilah yarnen (bayar panen). Bila petani sudah membayar utang dan masih punya sisa padi, PT CPB bekerja sama dengan PT Pusri bersedia membeli Rp 100 di atas pasaran per 1 kg. ''Ada daerah melarang petani, yang memiliki KUT, ikut program kami. Apa mau terlilit utang terus? Jadi program kemitraan harus terbuka, baik bagi yang punya utang maupun tidak,'' katanya. Dalam program itu distributor bisa mengirim pupuk sampai ke kelompok tani minimal 25 ton. Petugas PT Pusri menuturkan harta eceran tertinggi urea Rp 1.050/kg, SP 36 Rp 1.320, TSA Rp 950. Adapun pupuk KCl, yang tidak disubsidi pemerintah, Rp 1.435/kg. Seorang petani, Suroso, menyatakan sebaiknya tidak kredit. Bagi petani sangat menggembirakan bila pupuk ada dan murah. Mendengar aspirasi itu Ny Irsani menyatakan kini punya dua pilihan. Kemitraan atau pupuk murah. Hasil pertemuan itu akan diteruskan dengan membuat rencana tindak lanjut. (bd-34g) |