logo SUARA MERDEKA
Line
 Olahraga Minggu, 28 September 2003  
Line

PSIS dan Kontribusi Lokal

Oleh: Amir Machmud NS

THINK globally, act locally. Dengan sedikit dipelesetkan, ''mantera'' ini patut dicanangkan PSIS Semarang menyongsong Kompetisi Liga Indonesia 2003-2004, yakni mengembangkan potensi lokal dengan target besar.

Dengan sejumlah pemain asing dan pelatih berpengalaman di pentas LI 2002-2003, pencapaian terhindar dari degradasi lewat ''drama pacu jantung'' jelas sangat minimalis. Gugatan pun muncul: kalau pemain asing yang digaji tinggi hanya berkualitas ''sing penting Londo'', apa bedanya dari me-''make up'' turis mancanegara dengan kostum PSIS dan memberi mereka sepatu bola?

Terlepas dari persoalan ''paket'', mengapa pemain sekualitas German Osorio bisa lolos seleksi? Begitu juga Luis Miranda yang tidak memperlihatkan kapasitasnya sebagai pemain impor. Pablo Vernagno malah tak memberi kontribusi apa pun karena dihantam cedera.

Memang tak semua ''wong sabrang'' tidak membawa berkah. Abdoulaye Djibril dan Julio Lopez menjadi pilar PSIS. Begitu juga di tim-tim seperti PSM, Persita, atau Persik. Dari aspek entertainment, mereka adalah magnet, maskot tim dalam konsep industri sepakbola. Tetapi kalau mutu pemain asing itu tidak di atas pemain lokal, tentu hanya membuang-buang anggaran. Apakah Osorio dan Miranda pantas menerima gaji di atas pemain lokal seperti Indriyanto Nugroho dan Khusnul Yaqien?

Belakangan, profesionalisme Lopez juga digugat. Sadar menjadi tumpuan, di separo kompetisi dia menuntut kenaikan gaji. Mentalitas dasar pemain ini terlihat ketika mulai ogah-ogahan berlatih. Berbagai teguran dan pendekatan malah membuahkan kejengkelan, karena Lopez mengaku tak perlu serius lagi lantaran PSIS sudah tidak punya peluang juara. Dengan mental seperti itu, bargaining nilai kontrak Rp 500 juta ditambah gaji Rp 25 juta tampaknya pantas untuk tidak dihiraukan lagi.

Mereka-reka pemain memang perlu segera dilakukan setelah Yoyok Sukawi resmi ditunjuk lagi menjadi manajer tim. Pertama-tama, bagaimana targetnya? Dengan anggaran Rp 8 miliar dari APBD, obsesi Yoyok untuk membangun dream team tentu bisa dimengerti. Tetapi langkah cepat mesti diayun dengan menyusun kesiapan jadwal manajerial. Dari target, penentuan pelatih, kasting materi pemain, perburuan pemain, kontrak, sponsorship, sampai persiapan pre-season.

Yang tak boleh diabaikan, seberapa pun besar pikiran industrial yang ada di benak manajemen, membangun warna lokal tetap harus ''disisipkan'' sebagai bagian langkah tim. Dari kerangka tim lama, ada satu-dua pemain lokal yang menonjol, dan di antara sisa 23 pemain yang didaftarkan, PSIS perlu melirik bakat-bakat dari klub amatir anggotanya sebagai semacam ''magang''. Kalau dalam satu-dua tahun mental mereka ikut tergembleng dalam pola latihan tim utama, tentu ada harapan disiapkan sebagai pelapis dalam ''proyek PSIS II''. Dari bakat lokal, siapa tahu bisa dimunculkan maskot untuk dua musim berikutnya?

Klub-klub akan terangsang untuk membenahi diri. Apalagi ada rencana menghidupkan kembali kompetisi internal. Maka klub perlu mereorganisasi diri dengan administrasi yang lebih baik. Mereka akan membutuhkan kejelasan mengenai hak-haknya terhadap pemain yang dipakai PSIS, karena pada hakikatnya PSIS dalam format liga sekarang ini sudah termetamorfosis menjadi ''klub''.

* * *

Warna lokal Semarang juga perlu didorong dalam porsi kepelatihan. Daniel Roekito telah menyatakan mundur, sehingga Yoyok Sukawi dengan ''tim''-nya kini milang-miling calon yang siap untuk langkah besar musim 2003-2004.

Semarang sebenarnya tidak kering bakat pelatih. Salah satunya tentu Sartono Anwar dengan reputasi yang sudah jelas. Lantaran tugas di Pra-PON Jateng tak kalah menantang, konsentrasi meloloskan tim ke Palembang tahun depan tidak boleh terganggu untuk urusan PSIS. Apalagi dia juga sudah diikat Persibas Banyumas.

Lalu siapa? Jawabannya sudah tersedia: siapa lagi kalau bukan Edy Paryono? Dia telah membuktikan survivalitasnya pada 1999 dan di Divisi I 2001. Tambahan ilmu yang didapat setelah sebulan berguru ke Jerman tentu sangat bermanfaat. Karena tugas PSSI ke Jerman, posisinya di timnas Pra-Piala Asia digantikan Jaya Hartono, dan ini blessing in disguise bagi PSIS. Edy punya cukup bekal, karakter, dan komunikasi untuk berinteraksi.

Bagaimana dengan nama-nama yang lain? Ada Cornelis Soetadi yang kini menjadi Ketua Komisi Pelatih dan menangani PSIS Yunior, Benny Hartono yang baru saja mengundurkan diri dari Persijap Jepara, Firmandoyo yang beberapa musim mendampingi Edy Paryono, Djoko Yogyanto yang merintis karier sebagai asisten Roekito di musim lalu, juga Ridwan yang pernah menjadi asisten Edy. Ini untuk menyebut sebagian di antara banyak potensi Semarang.

Firmandoyo? Rasanya dia sudah harus ''dientaskan'' dari bayang-bayang sebagai asisten, dan dia sudah memulai membangun performansi diri bersama Persik Kendal. Pelatih potensial ini perlu terus didorong ke ''lahan'' ekspresi kemampuan.

Potensi Semarang yang lain, Djoko Yogyanto, boleh dikata belum leluasa menularkan ilmu pada musim 2002-2003. Saya semula berharap Yogi bakal mentransformasikan kemampuannya yang komplet semasa menjadi pemain: akurasi tendangan pisang, pengendali lini tengah yang brilian, dan leadership. Namun rupanya ada kendala psikologis yang menyebabkan ''Pak Notaris'' ini ''kurang termanfaatkan''. Sebagai aset, dia pantas diberi kesempatan lagi. (57t)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA