logo SUARA MERDEKA
Line
 Olahraga Minggu, 28 September 2003  
Line

CORNER

Saya Ingin Pulang Kampung

AKSI I Made Sudiadnyana dalam semifinal Liga Bolabasket Indonesia (A Mild IBL) pada Senin dan Selasa lalu di Hall Basket Gelora Bung Karno mengundang decak kagum publik basket Tanah Air. Aksi pebolabasket bertinggi badan 188 sentimeter ini merepotkan pemain-pemain CLS Good Day yang menjaganya. Pemain nasional asal Singaraja Bali ini akhirnya dalam dua kali bentrok di babak tersebut keluar sebagai MPV (most of player valuable/pemain terbaik).

Prestasinya yang hebat ini tidak membuatnya tinggi hati. Pemain kelahiran 16 November 1970 ini bahkan merasa sedih belum bisa mempersembahkan sesuatu yang bernilai tinggi untuk basket Indonesia. ''Saya sedih belum mampu membawa Indonesia meraih emas di event seperti SEA Games. Memang rasanya itu tidak mungkin. Filipina dan Malaysia kuat. Apalagi basket permainan tim. Jadi bukan saya penentu kemenangan, begitu pun di Bhinneka. Kemenangan Bhinneka adalah milik bersama,'' kata pemain langganan tim nasional ini.

Lolik - demikian panggilannya - memulai karier bola basket saat memasuki usia 12 tahun. Kala itu dia masih tinggal di Singaraja, Bali. Awal mula tertarik basket adalah intensnya Pengda Perbasi Bali menggelar turnamen bulanan di sana. Pemain bertangan dingin ini akhirnya tertarik bola basket.

''Awalnya saya justru senang sepakbola. Sayangnya tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk menekuninya. Basket ternyata menarik juga. Akhirnya saya tekuni basket,'' kata pria yang suka pada masakan tempe dan tahu goreng ini.

Inspirator dan motor tim Bhinneka ini juga merupakan pemain langganan timnas basket. Setidak-tidaknya sudah 10 tahun dia memperkuat Indonesia dalam berbagai turnamen. Kiprah pertamanya dalam timnas Merah Putih adalah pada tahun 1993 saat kejuaraan Asia di Jakarta. Kala itu timnya hanya meraih peringkat 12.

Prestasi tertinggi Lolik dengan timnas Merah Putih adalah saat bisa mempersembahkan medali perak di SEA Games 2001 di Kualalumpur. Kini dia juga berharap prestasi itu minimal bisa dipertahankan.

''Saya rasanya ingin pensiun dari basket. Saya akan pulang kampung. Sekarang banyak pemain muda dengan tingkat teknik permainan bagus. Sudah saatnya mereka naik pentas,'' katanya.

Sebelum pensiun, obsesi utama Lolik adalah membawa Bhinneka menjadi juara IBL tahun ini. Mengantarkan klubnya sekarang menjadi juara akan menyebabkan dirinya tenang dalam menjalani masa pensiun dari basket.

Adalah pengalaman menyakitkan ketika dia dua kali gagal mengantarkan Bhinneka menjadi juara dalam final Kobatama pada 1999 dan 2001. Saat itu klub asal Solo ini menumbangkan Satria Muda dan Aspac Texmaco. ''Saya ingin Bhinneka jadi juara. Aspac memang klub bagus dan kekuatannya merata. Mereka juga dihuni banyak pemain nasional. Kami sudah saling mengalahkan di babak reguler. Peluang untuk menang ada. terlebih pertandingan menggunakan sistem the best of three,'' kata Lolik. (Budi Yuwono Alatas-57t).


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA