logo SUARA MERDEKA
Line
 Olahraga Minggu, 28 September 2003  
Line

Mampukah Chrisjon Mengikuti Jejak Pical?

PADA Mei 1985, Ellyas Pical mengukir prestasi emas sebagai petinju Indonesia pertama yang tampil sebagai juara dunia kelas bantam yunior versi IBF. Kini, Chrisjon baru menggenggam juara ad interim kelas bulu (57,1 kg) WBA. Lalu kapan dia sebagai juara sejati kelas bulu WBA?

Hari Sabtu (27/9) siang, di kafe Hotel Adi Jaya di kawasan Kuta, Bali, Ketua Umum Komisi Tinju Indonesia (KTI) Anton Sihombing bercerita mengenai fenomena Chrisjon. Pemuda kelahiran Banjarnegara yang baru saja merebut gelar juara ad interim kelas bulu versi WBA itu memperoleh perhatian khusus Anton.

Tokoh tinju profesional Indonesia itu mengungkapkan, dia baru saja bertemu dengan Presiden WBA Gilberto Mendoza. Orang pertama di WBA itu, kata Anton, mengaku kesengsem atas performance Chrisjon usai bertarung dengan Oscar Leon.

"Kata Mendoza, Chrisjon berprospek merebut juara dunia kelas bulu WBA," ungkap Anton.

Apa dasarnya? Anton menceritakan, Mendoza sempat bertemu langsung dengan Chrisjon. Kepada petinju binaan Sutan Rambing tersebut, Presiden WBA asal Venezeula lantas memegang sambil memijat-mijat tangan dan beberapa bagian tubuh Chrisjon.

Lantas berdasarkan "cek fisik ala Mendoza" , kemudian Mendoza berani mendiagnosis bahwa Chrisjon memiliki kemampuan untuk merebut juara dunia kelas versi WBA. "Mendoza berkata demikian, masak kita tak optimistis? Mendoza itu memiliki kemampuan dan teknik bertinju juga," tegas Anton kepada beberapa pengurus KTI daerah di kafe Hotel Adi Jaya Kuta.

Ya, harapan (jika tak boleh dikatakan mimpi) negara berpenduduk 200 juta jiwa lebih ini memiliki seorang juara dunia tinju memang telah lama. Ada kerinduan untuk menghadirkan "Ellyas Pical, Ellyas Pical" baru dalam tempo sekarang. Sebab, prestasi juara dunia tinju tak hanya meningkatkan harkat dan harga seorang petinju profesional. Yang lebih penting lagi, citra nasional bisa dihadirkan di kalangan internasional dengan kepala tegak.

"Tapi, bukan perkara mudah mencetak seorang juara dunia," ujar Eddy Pirih, promotor tinju profesional dari Surabaya. Sambil menggesek-gesekkan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya, pemilik Sasana Pirih Boxing Camp ini mengemukakan, faktor dana adalah prasyarat penting untuk bisa mencetak juara dunia tinju.

"Kondisi fulus (dana) yang kurang memadai (cekak) sulit bisa mencetak seorang juara dunia tinju," katanya.

Memang, tentu kita masih ingat era Ellyas Pical. Melalui tangan dingin promotornya, Boy Bolang, anak Mama Ana asli Saparua Maluku tersebut berhasil menggenggam juara kelas bantam yunior selama beberapa tahun. Ketika itu, tak sedikit dana yang mesti dikucurkan Boy Bolang untuk memoles dan mempercantik bakat "adu jotos" Ellyas Pical, termasuk mendatangkan ke Indonesia lawan yang disandingkan dengan petinju bergaya kidal tersebut.

"Dukungan dari kalangan pengusaha itulah yang sedang kita cari untuk melahirkan juara dunia dari Indonesia," tambah Anton Sihombing.

Dan sekarang bakal calon juara dunia kelas bulu WBA itu kini orangnya ada di depan mata kita. Siapa dia? Chrisjon.

Faktor Don King

Daniel Bahari, promotor tinju profesional lainnya dari Bali, menuturkan, setelah berhasil mengalahkan Oscar Leon, Chrisjon jangan terburu-buru dipertarungkan dengan petinju luar negeri di negara lain. Katanya,

kalau pun nanti Chrisjon berkesempatan menantang Derrick Ganner, sebaiknya pertarungan tersebut digelar di dalam negeri. ''Persoalannya, sekarang siapa yang mendanai? Adakah promotor tinju nasional kita mampu mendatangkan Derrick Ganner dan promotor sang juara itu setuju?" tambah Daniel dengan nada tanya.

Kabarnya, Derrick Ganner masuk manajemen Don King. Pria berambut jabrik ini memang dikenal sebagai promotor kelas wahid di dunia tinju profesional. Banyak promotor di negara lain sulit melepaskan diri

dari pengaruh dan kungkungan manajemennya. Manajemen Don King adalah kiblat terpenting perhelatan tinju kelas dunia. "Apalagi dalam pertarungan memperebutkan juara dunia yang hak tanding petinjunya berada di tangan Don King, akan sulit," jelas Tourino Tidar.

Katanya, bukan hal mudah memengaruhi manajemen Don King untuk sudi melepaskan petinjunya bertanding di Indonesia melawan petinju negara ini dalam perebutan gelar juara dunia. "Makanya, melalui kegiatan Konvensi Ke-82 WBA di Bali ini kita harapkan insan tinju internasional mengetahui perkembangan tinju profesional di Indonesia," tambah Tourino yang juga dikenal sebagai promotor tinju profesional.

Sayang, harapan mendatangkan praktisi tinju profesional top one di Bali tak berhasil 100%. Kendati Presiden WBA Gilberto Mendoza menghadiri kegiatan tersebut hingga akhir, tapi banyak kalangan praktisi tinju profesional kelas internasional tak bisa hadir, misalnya Don King, Bob Arum, Mike Tyson, dan Oscar de la Hoya.

Dalam event di Bali ini, Don King, jelas Tourino, diwakili salah satu asistennya, Bobby Goodman. Tyson tak bisa datang karena tak ada izin dari Kedutaan Besar AS. Negeri Paman Sam tersebut telah mengeluarkan kebijakan travel warning ke Indonesia. Sedangkan jadwalnya sangat padat. "Sayang memang," ungkap Torino.

Lantas apa yang akan dilakukan KTI menghadapi masalah ini? Secara tak langsung Anton Sihombing memberikan jawaban. Intinya, KTI tetap mengharapkan dalam tempo tiga bulan ke depan Chrisjon tetap naik ring melawan petinju berkualitas. Sedapat mungkin, pertarungannya berlangsung di dalam negeri, sehingga kesempatan bagi Chrisjon menantang juara kelas bulu WBA makin terbuka.

Namun, tampaknya sangat mustahil melepaskan ikhtiar merebut juara tinju tingkat dunia dengan menafikan pengaruh manajemen Don King. "Jelas tak mungkin. Sebab, hak bertanding sebagian besar petinju

kelas dunia dipegang dia," jelas Daniel Bahari.

Yang dibutuhkan dalam konteks sekarang adalah bagaimana menumbuhkan partisipasi kalangan perusahaan swasta. Mereka diharapkan sudi mengucurkan sebagian dana promosinya untuk mendukung event tinju tingkat internasional di Tanah Air. Dan itu kemungkinan besar terwujud jika kondisi perekonomian nasional secara makro kondusif.

"Tanpa dukungan perusahaan swasta, kelihatannya berat tugas promotor menggelar tinju memperebutkan juara dunia," tambah Daniel.

Sebenarnya, dari sisi kemampuan dan jaringan lobi internasional, kini ada beberapa nama promotor tinju profesional dari Indonesia, yang namanya telah go international. Antara lain, Aseng Hery Sugiarto, Daniel Bahari, Eddy Pirih, dan Torino Tidar.

Namun, mengharapkan sepenuhnya uang itu keluar dari kocek mereka, tanpa partisipasi pihak swasta, untuk menggelar event tinju dunia yang bernilai miliaran adalah satu kemustahilan. "Sekali lagi, masalah ini (uang) tetap pegang peran penting, karena pertarungan tinju profesional tingkat dunia, Mas," tegas Eddy Pirih. (Ainurrohim-57t)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA