logo SUARA MERDEKA
Line
 Berita Utama Minggu, 28 September 2003  
Line

Jalan Lain Bertemu Hantu

DUNIA HANTU: Hantu, meski menakutkan, kini menjadi komoditas di televisi, radio, dan surat kabar. Ia telah menjadi infotainment.

HARRY Panca mengangkat tangannya. Telapak tangannya terbuka, mengarah ke tempat yang gelap dan sunyi. Sensasi itu muncul dengan retorika Harry yang menggelinding bagai puisi. Akselerasi imajinasi memonopoli adegan demi adegan yang cukup spektakuler. Penonton pun terhipnotis untuk menjelajahi berondong elektron itu detik demi detik. Sekelebat kita telah memasuki dunia lain, dunia makhluk gaib.

Ya, tayangan televisi berbau supranatural, belakangan ini begitu banyak memesona para pemirsa. Kita disuguhi oleh banyak hal mistis dari tempat-tempat yang dianggap sebagai kerajaan makhluk gaib. Ada keingintahuan yang berubah menjadi kebutuhan untuk menyimak "dapur" makhluk gaib itu lewat tayangan televisi. Menariknya, tayangan itu ternyata mendapat rating cukup tinggi. Alhasil, tayangan "dunia setan" itu pun menjadi komoditas bagi industri televisi.

Tengok saja misalnya, "Dunia Lain" di Trans TV, "Percaya Nggak Percaya" di Anteve, "FTV Misteri" di SCTV, dan beberapa tayangan lain. Semuanya konon untuk memenuhi "kebutuhan" masyarakat akan hal-hal gaib, tidak masuk akal, dan misterius. Konon lagi, itulah salah satu bentuk atau bagian dari gaya hidup manusia modern (?)

"Saya sendiri sebenarnya penasaran, masa sih alam gaib bisa dilihat lewat televisi. Kalau benar bisa, itu sangat sensasional,'' kata Joko Prasojo, warga Tegalsari Sendang.

Ya, semakin tinggi tingkat sensasi yang ditawarkan, semakin meningkat pula keingintahuan masyarakat terhadap dunia lain. Bahkan, jika memungkinkan, makhluk gaib yang sedang bercinta pun akan ditayangkan. Dan jika itu terjadi, semuanya akan menjadi tontonan yang spektakuler.

"Namun selama saya nonton program-program seperti itu, belum pernah ada televisi yang bisa menayangkan setan beneran. Paling cuma bayangan hitam, lalu keterangan bahwa gambar tersebut bukan trik. Namun, tetap saja setannya tidak kelihatan," kata Eko Dedy, warga Cinde Dalam.

Mendapat Perhatian

Apa pun, di sela-sela keglamouran para artis seperti goyang Inul, Nita Thalia, Annisa Bahar, atau gegap gempitanya siaran langsung sepak bola, program tayangan dunia gaib agaknya tetap diminati para pemirsa.

Kesunyian, keangkeran, dan kengerian terhadap kemungkinan menemui atau ditemui makhluk gaib ternyata bukan lagi hal yang menakutkan. Tentu saja, tidaknya jika semua itu hanya terjadi di layar kaca.

Sundel bolong, genderuwo, banaspati, wewe gombel, atau kuntilanak setidaknya lewat televisi- hampir setiap hari kita santap.

Bahkan, kegemaran untuk menikmati kengerian yang pura-pura telah menjadi gaya hidup masyarakat modern. Meski hingga kini sebenarnya belum pernah ada satu stasiun televisi pun yang bisa menayangkan, misalnya bentuk genderuwo.

Tanpa infotainment kegaiban, rasa-rasanya hidup menjadi kurang lengkap (?) Gejala apakah ini? Sadarkah bahwa tayangan seperti itu sebenarnya telah mencederai akal sehat kita?

Ataukah tayangan misteri itu sebenarnya hanya cermin dari kejenuhan masyarakat atas krisis yang berkepanjangan?

"Sebenarnya mereka (penonton) itu hanya ingin tahu saja. Mereka penasaran. Itu awalnya," kata psikolog Undip Hastaningsakti.

Di luar itu, tambah dia, masyarakat mungkin cenderung ingin melihat proses pengambilan gambar makhluk-makhluk gaib itu.

"Dibanding dengan hanya mendengar cerita tentang hantu dari orang lain, tayangan televisi itu lebih nyata. Nah, mereka menyukai proses menemukan gambar hantu itu, meski hasilnya nihil."

Lebih lanjut Hasta mengungkapkan, masyarakat juga mulai memiliki selektivitas yang tinggi terhadap program-program yang disiarkan televisi. Dia menyebutkan, sebelum masyarakat "gandrung" dengan program dunia hantu tersebut, progran telenovela, sinetron Cina, dan India menjadi menu utama hingga akhirnya muncul Inul, kemudian yang belakangan ini semakin memerebak adalah dunia hantu.

"Saya kira itu wajar. Tidak ada hubungan dengan gejala apa pun. Masyarakat hanya melihat bahwa tayangan 'dunia gaib' itu lain daripada yang lain sehingga mereka penasaran."

Ruang Komoditas

Dalam industri pertelevisian sebenarnya tayangan misteri sama dengan produk-produk lain. Ketika permintaan masyarakat meningkat dan haus pada informasi tentang "tetangga", tayangan itu akan digemari. Ini tak lebih dari ketika ada gosip baru tentang selebritas yang berurusan dengan pihak berwajib, kawin-cerai, dan urusan remeh-temeh lainnya.

Ya, setelah melihat animo masyarakat yang meluap, banyak kemudian tayangan-tayangan serupa. Pasar konsumen memang menjadi orientasi utama media massa.

Simak misalnya kasus "rumah hantu" di Jakarta yang beberapa waktu lalu menghebohkan itu. Ribuan orang ketika itu menyemut, mendatangi rumah mewah itu hanya untuk "melihat" hantu. Peristiwa itu pun tak dilewatkan begitu saja oleh stasiun televisi.

Tampaknya, itulah yang bisa ditangkap dalam industri televisi. Dengan jeli mereka menjaring kebutuhan masyarakat dan kemudian menyediakannya dengan bentuk infotainment seputar dunia gaib. Mereka (masyarakat) bisa apa? Satu pertanyaan yang barangkali muncul, sampai kapan tayangan misteri itu akan bertahan dan mencekoki pola pikir masyarakat? (Ganug Nugroho Adi-72n)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA