| Berita Utama | Minggu, 28 September 2003 |
Diperketat, Penjagaan Sekitar Rumah Suu KyiYANGON - Myanmar memperketat penjagaan keamanan di sekitar rumah Aung San Suu Kyi, Sabtu kemarin, ketika negara-negara Barat dan kelompok-kelompok oposisi menuntut pembebasan pejuang demokrasi itu dari tahanan rumah. Negara-negara tetangga yang juga mitra Myanmar di ASEAN - yang beranggotakan 10 negara - mengatakan, diizinkannya Suu Kyi kembali ke rumahnya setelah hampir empat bulan ditahan di tempat yang dirahasiakan, merupakan langkah positif pemerintahan juta militer. Peraih Nobel Perdamaian itu, yang menjalani operasi besar di bagian kandungan sepekan lalu, pada Jumat malam dipindahkan dari RS tempat dia dirawat ke rumahnya di tepi sebuah danau di Yangon, ibu kota Myanmar (dulu Burma).
Kantor berita Reuters mengabarkan, di rumah itulah dia dibatasi ruang geraknya selama lebih dari tujuh tahun (pada 1989 lalu) oleh penguasa militer. Menurut kantor berita itu, kemarin keamanan diperketat di sekitar rumahnya. Petugas keamanan memasang perintang di berbagai jalan besar, tidak jauh dari rumahnya, sementara polisi melakukan pemeriksaan terhadap semua kendaraan. ''Hanya orang-orang yang punya izin khusus dibolehkan memasuki daerah tersebut,'' kata seorang petugas keamanan tidak berpakaian seragam kepada Reuters. Indonesia dan Thailand adalah dua di antara beberapa negara yang tidak menyukai penahanan Suu Kyi. Kedua negara anggota ASEAN itu mendesak junta yang berkuasa agar membebaskannya, sebelum KTT Asia Tenggara bulan depan. Jakarta dan Bangkok juga mengatakan, keputusan Yangon untuk memindahkan ikon demokrasi itu, patut dihargai. ''Mengizinkan Aung San Suu Kyi kembali ke rumahnya, merupakan langkah tepat bagi demokrasi, langkah yang memperhatikan pendapat berbagai pihak,'' kata Sita Divari, juru bicara Deplu Thailand. Seruan AS Inggris dan Amerika menyerukan pembebasan Suu Kyi dengan segera dan tanpa syarat. ''Aung San Suu Kyi sekali lagi menjadi tawanan di rumahnya sendiri, dan rezim militer dengan terang-terangan tidak menghormati tuntutan rakyat Burma bagi tegaknya demokrasi dan HAM,'' kata Mike O'Brien, juru bicara Deplu Inggris. Amerika Serikat, yang bersama-sama Uni Eropa telah memperketat sanksi terhadap junta militer tersebut, mengukuhkan sikap Inggris. ''Kami tetap prihatin pada nasib Suu Kyi dan semua tawanan politik yang lain,'' kata Adam Ereli, juru bicara Deplu AS. ''Kami mengulangi seruan agar junta militer segera mencabut semua pembatasan terhadap Suu Kyi.'' Suu Kyi memenangi Nobel Perdamaian selama dia dalam tahanan rumah. Dia kembali ditahan 30 Mei lalu, setelah pecah bentrokan antara para pengikutnya dan kelompok pendukung pemerintah. Banyak para pengikutnya juga ditahan. Di jalan-jalan kota Yangon, warga setempat berdebat mengenai langkah apa lagi yang akan diambil oleh para jenderal yang berkuasa di negeri itu. ''Saya dengar dari radio, dia teah kembali ke rumahnya. Tetapi saya tidak tahu kapan dia akan dibebaskan. Kami ingin tahu, bagaimana pemerintah menangani krisis ini,'' kata seorang lelaki, yang sedang minum teh di sebuah kedai. Para penguasa militer mengatakan Suu Kyi telah dikembalikan ke rumahnya. Tetapi pemerintah tidak mengatakan, apakah dia berada dalam tahanan rumah atau tidak. ''Dia akan terus beristirahat di rumahnya, di bawah pengawasan dokter-dokternya. Sedangkan pemerintah siap menyediakan dan membantu kebutuhan medis dan bantuan kemanusiaan untuknya,'' bunyi sebuah pernyataan pemerintah.(ben-30) |